Lelaki itu seketika ingat sebuah kisah mafia di Amerika Serikat yang berhubungan dengan Hari Valentine.
***
Pada tahun 1929, Capone menjadi penguasa bisnisnya dan pemimpin geng paling kuat di AS. Ia sangat dikenal di kotanya bahkan seluruh AS. Dan kebanyakan orang di balai kota sudah ada dalam daftar sogokannya, termasuk Walikota. Ia pun tak takut polisi yang kebanyakan memang sudah berhasil ia kuasai.
Tetap ada pertikaian dalam kerajaan Capone. Para algojonya telah menghapus sebagian besar musuh besarnya, tetapi tidak Bugs Moran. Moran merupakan bos gerombolan North Side, gerombolan penjahat sinting. Mereka terus merangsek, terus berusaha mencari kelemahan Capone. Dalam salah satu upaya mereka, adalah saat berhasil menghantam Jack McGurn. Algojo paling berharga yang dimiliki Capone. Tapi McGurn belum mati dan berhasil sembuh.
McGurn adalah seorang pria cerdas, tangguh, usil, dan kejam. Saat itu ia baru berusia 19 tahun ketika ayahnya yang merupakan pedagang kelontong dibantai oleh para gangster. McGurn pun memilih untuk menenggelamkan dirinya kedalam dunia kriminal, menjadi seorang algojo.
Percobaan pembunuhan yang gagal terhadap McGurn adalah sebuah peringatan bagi Al Capone kalau perang yang dimulai dengan tewasnya Dion O'Bannion ditahun 1924 hanya akan berakhir dengan tewasnya mereka (Capone atau Moran).
McGurn yang masih dalam masa penyembuhan, diberi tugas menghabisi Moran. Ia membuat sebuah perangkap bagi Moran dengan umpan yang menggiurkan. Salah seorang dari anak buahnya yang tidak ikut di dalam pasukan pembantaian ini berpura-pura sebagai seorang pembajak yang baru saja mendapatkan barang rampasan berupa wiski Kanada, "barang asli", dan ia berusaha menjual wiski itu dengan cepat dan harga murah. Ia mendekati kelompok Moran, yang langsung menyambar tawaran itu. Pertukarannya diadakan di sebuah gudang.
Tanggal pertukaran ditentukan tanggal 14 Februari 1929 --hari Valentine. Pukul 10.30 pada tanggal itu mereka melihat Moran memasuki gudang itu yang dengan segera melaporkan kepada para algojo. Ternyata mereka membuat kesalahan fatal. Orang yang mereka lihat bukan Moran melainkan Albert Weinshank, seorang yang mirip Moran. Didalam gudang itu ada tujuh orang termasuk Weinshank.
Tanpa diduga, sebuah mobil polisi tiba, ada tiga orang polisi berseragam dan dua orang polisi berpakaian preman. Dipersenjatai shotgun dan senapan mesin. Para polisi segera menyergap dan meringkus para gangster itu dengan senapan teracung. Mereka yang ada di dalam gudang itu mungkin mengira kalau para polisi ini adalah polisi yang paling dungu di Chicago. Moran membayar banyak uang kepada para petinggi kepolisian untuk membuatnya kebal hal-hal menyebalkan seperti pengggrebekan. Para gangster tidak berusaha melawan karena mengira ini hanyalah kesalahpahaman kecil.
Para penggrebek ini menyuruh ketujuh orang ini berdiri berjajar di depan tembok serta menggledah mereka dan mengambil senjata mereka. Dan ketika itulah anak-anak buah Moran menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Orang-orang itu sama sekali bukan polisi, tetapi para algojo yang menyamar sebagai polisi. Mereka pun memuntahkan peluru, menghantam para pria tak bersenjata itu dengan senapan mesin dan shotgun. Gudang itu pun lantas terdengar suara bising, asap mesiu, darah dan mayat.
***
Tak akan ada Hari Valentine yang buruk, yang akan ada hanya hari-hari baik yang ia persembahkan bersama keluarganya. Hidup adalah keberanian menghadapi tanda tanya. Sekalipun koma dan titik berencana untuk berkhianat. "Aku harus berani memulai alinea baru." tegas lelaki itu.
Bus kota yang dinantinya tiba.
Dengan membawa selembar surat lamaran pekerjaan yang dilapisi map dan segenggam harap masa depan, ia pun pergi.
====
====
Tidak ada komentar:
Posting Komentar