Selasa, 20 Januari 2015

Emak Tua


Jika tidak silap, terakhir kali aku menengok ke arah jam tanganku waktu menunjukan pukul 21:05 malam itu. Aku sedang menunggu kereta di Stasiun Palmerah tujuan Parungpanjang yang juga akan berhenti di Stasiun Rawabuntu, tempat pemberhentianku. Malam itu Stasiun Palmerah tak begitu ramai. Hanya ada beberapa puluh orang yang menunggu di peron dengan wajah yang letih.

Tak lama, kereta tujuan Parungpanjang tiba di Stasiun Palmerah. Tampak dari luar kursi-kursi penumpang dalam gerbong lengang. Akupun masuk dari pintu kereta yang terbuka tepat di depanku. Aku menengok ke kiri, tampak seorang perempuan tua, kutaksir umurnya sekitar 60 tahun sedang tertidur di pojok kursi gerbong kereta beserta − kucermati sebuah barang jualan tepat di bawahnya. Kebetulan bangku di sebelah perempuan tua itu kosong, akupun memutuskan duduk tepat di sebelahnya.

Beberapa menit kemudian kepala ibu itu terjatuh tepat di sisi kanan bahuku. Aku sedikit terkejut. Kuperhatikan wajahnya sangat amat letih. Tak ada niat sedikit pun dalam diriku untuk menegur yang pastinya akan membangunkan perempuan tua itu. Ah tak apalah, mungkin saking letihnya sampai ia tak sadar sedang bersandar dibahu orang lain.

Aku sibuk dengan telpon genggamku, sebagaimana orang-orang yang lainnya dalam gerbong itu.

“Tooooooooooot….” suara klakson kereta yang sedang berpapasan satu sama lain sontak membuat ibu tua itu terbangun. Seketika ia menatapku dengan masih sedikit linglung.

“Eh maaf ya, dek.” ucap ibu tua itu

“Iya, tak apa bu.” balasku dengan sedikit senyum

Ia kemudian membenarkan kerudungnya yang agak sedikit berantakan kemudian memeriksa kembali barang jualannya. Aku mencoba memulai percakapan.

“Ibu mau kemana?”

“Emak mau ke Parungpanjang, dek. Tadi habis jualan di Tanah Abang.”

Oh rupanya, ibu tua ini lebih senang jika dipanggil dengan sebutan Emak. Kucoba meneruskan percakapan dengan memanggil dia emak.

“Sendiri aja, mak?”

“Iya. Abis mau sama siapa lagi. Kalau dulu sama bapak, tapi bapak udah gak ada dari sembilan tahun yang lalu. Tiga tahun sebelumnya bapak udah batuk-batuk, emak mau bawa ke dokter tapi bapaknya gak mau. Paling cuma batuk biasa, lagi pula biayanya juga gak ada, kata bapak begitu. Ya mau gimana lagi dek, kita mah orang gak punya, sekedar beliin anak cucu baju baru aja udah seneng banget, gimana mau mikir biaya buat berobat. Emak mah mikirnya yang penting anak cucu bisa seneng udah cukup banget.” jelas si emak

Aku tak sampai hati sebenarnya melajutkan percakapan ini setelah mendengar penjelasan si emak tadi. Tapi justru emak sekarang yang memulai pembicaraan.

“Adek habis pulang kerja?”

“Oh engga mak, saya masih kuliah. Tadi habis main.”

Ah nampaknya perempuan ini tak keberatan dengan obrolan ini. Aku mencoba bertanya lebih lanjut. Lagi pula ia juga menejelaskannya dengan sangat ramah yang kadang disertai senyuman.

“Jualan apa mak di Tanah Abang?”

“Pecel, gorengan, kopi-kopian begitu-gitulah dek.”

Sungguh aku amat kagum dengan kegigihan emak tua ini di usianya yang segitu. Tak jarang aku melihat wanita-wanita sepantarannya yang hanya menjadi peminta-minta. Tapi ia tidak.

Kemudian aku teringat sebuah buku Daoed Joesoef yang bejudul “Emak”. Di salah satu bab nya terdapat cerita pengalaman antara Daoed Joesoef, Emaknya, dan pengemis. Ada beberapa poin yang dapat dipetik tentang kisah pengemis dalam buku itu.

Pertama, pengemis itu dengan sengaja menyalahgunakan ayat-ayat suci untuk membenarkan perbuatannya, seolah-olah ayat-ayat ini diturunkan memang demi membenarkan kepengemisan. Dengan begitu dia juga sebenarnya telah merendahkan derajat dan martabat agamanya.

Kedua, dengan meminta-minta sambil berdoa itu, si pengemis mengutak-atik rasa keseagamaan dan kemanusiaan kita

Ketiga, dengan meminta-minta itu, si pengemis tidak hanya menipu kita tapi juga membohongi dirinya sendiri. Dia menipu kita karena telah menutup-nutupi kemalasannya.

Pengemis bukanlah miskin benda. Sebenarnya mereka lebih banyak miskin dalam pikiran, gambaran dan lebih-lebih dalam kemauan. Karena miskin dalam hal-hal yang disebut terakhir itulah makanya mereka melalaikan rahmat Allah yang tersedia di sekitar kita.

Syahdan aku pun bertanya lebih lanjut kepada emak.

“Anak emak ada berapa?”

“Anak emak satu. Cewek. Cucu emak juga satu, umurnya baru 5 tahun. Cewek juga. Suaminya bilang 3 tahun lalu mau jadi kuli bangunan di daerah Bogor, tapi sampe sekarang gak pulang-pulang. Minggat kali.”

“Selama 3 tahun gak pernah ngasih kabar, mak?”

“Engga. Ah emak mah ambil hikmahnya ada dek. Anak emak disakitin terus kalo pas ada dia di rumah”

Berengsek betul lelaki itu, gumamku dalam hati. Dia telah menelantarkan 3 perempuan sekaligus. Yang pertama istrinya, anaknya, dan mertuanya. Sebagai seorang lelaki saya menundukan kepala aku sekaligus berbicara dalam diri sendiri.  Jangan sampai kau menjadi lelaki seperti itu ucap diriku sendiri. Memang tidakkah kata perempuan itu sendiri berasal dari kata “empu” yang penuh dengan pengertian penuh kehormatan dan kesakitan? Tapi lelaki itu kelewat berengsek.

Ada suatu kisah dalam novel “Perempuan Di Titik Nol” karya Nawal el-Saadawi. Terkisah seorang perempuan bernama Firdaus dari sel penjaranya, tempat dia melaksanakan hukuman matinya. Dikarenakan dia telah membunuh seorang lelaki yang merupakan germo. Firdaus merupakan kisah seorang wanita yang telah didorong oleh rasa putus asa ke pojok yang paling kelam. Wanita ini, sekalipun muak dan putus asa, telah menghidupkan dalam hati mereka. Suatu kebutuhan untuk menantang dan melawan kekuatan-kekuatan tertentu yang telah merampas hak manusia untuk hidup, untuk bercinta, dan menikmati kebebasan yang nyata.

Entah, tapi aku dapat melihat sebuah kemarahan akan kenyataan pahit namun di satu sisi ketegaran dan kegigihan itu tampak jelas disaat aku menelusuri garis-garis dahi, bibir, dan berujung pada matanya.

Tak terasa kereta sudah berhenti di Stasiun Rawabuntu, tempat pemberhentianku. Aku memakirkan motorku di stasiun ini. Tapi, aku ingin sedikit banyak berbincang lagi dengan emak tua ini. Aku pun memutuskan untuk berhenti di Stasiun Serpong saja. Biar nanti aku balik kembali ke Rawabuntu untuk mengambil motorku.

Jarak Stasiun Serpong – Rawabuntu kurang lebih 2 menit perjalanan kereta. Berarti aku hanya punya waktu untuk pamit saja. 

Kereta berangkat lagi menuju Stasiun Serpong.

“Mak, saya harus turun di Stasiun Serpong. Maaf kalau saya banyak nanya sampai masalah yang seharusnya orang lain tidak tahu.”

“Ah gapapa dek, emak mah malah seneng kalo mau ada yang dengerin cerita emak. Hati-hati di jalan.” ucap emak tua tersebut

Kereta sampai di Stasiun Serpong.

“Iya mak, emak juga hati-hati nanti di jalannya.”

Aku menyodorkan tangan bermaksud bersalaman kepada emak. Emak pun membalas. Tangannya begitu legam dan kasar. Seolah melukiskan betapa kerasnya perjuangan emak tua ini.

Aku pun turun dari kereta. Emak menoleh dari jendela, sembari melempar senyum dan melambaikan tangan. Aku membalas. Dalam hati seperti ada yang mengiris saat senyuman emak semakin tak terlihat ketika kereta semakin menjauh. Sungguh pelik.

Sambil menunggu kereta arah sebaliknya datang, aku bermunajat. Ya Tuhan, permudahlah segala sesuatunya untuk emak tua tadi. Aku sangat percaya Tuhan pasti akan menghargai sikap dan jerih payah seperti itu. Bukankah Tuhan sendiri yang mengatakan bahwa manusia tidak akan menjadi lebih baik nasibnya kalau dia sendiri tidak berusaha untuk memperbaikinya. Dengan perkataan lain, doa saja kiranya tidak cukup, masih diperlukan sekali kerja keras.

Kereta tujuan Rawabuntu pun datang.

Aku pulang.


=====

Tidak ada komentar:

Posting Komentar