Engkau dapat berbaring dalam pangkuanku, ceritaku akan berbisik melewati celah-celah rambut tipis yang menutupi telingamu. Aku akan bercerita.
Saat masih kecil, aku sering berpikir bahwa hujan hanya turun malam hari. Tapi ternyata, dalam malam tak hanya ada hujan. Ada pula bintang. Jika hujan ada, bintang tak tampak. Begitupun sebaliknya. Aku mencoba memahami, apakah ratapan air hujan mirip dengan cahaya bintang; ada di malam hari namun selama beberapa waktu tertutup oleh benda lain atau cahaya yang lebih terang?
Malam itu hujan amat deras di bulan Januari. Suasana kota amat sunyi. Aku masih mendengar lantunan lagu-lagu Joan Baez yang diputar bapakku lewat tape kesayangannya. Bangunan-bangunan semakin terlihat pucat ketika diguyur hujan. Tiba-tiba di ujung jalan rumahku terdengar suara bantingan pintu yang segera memecah kesunyian malam. Seorang gadis kecil keluar dari pintu itu dengan tersedu-sedu. Usianya sepantaranku. Ia kemudian duduk di saung di halaman depan rumahya. Aku menghampiri.
"Ada apa?" tanyaku. Ia tetap tak bergeming dalam keseduannya. Nama gadis itu Kina. Aku sudah dapat menebak, orangtuanya pasti kembali bertengkar. Sebab ini bukan kali pertama ia menangis.
"Tenanglah, Kina. Aku pernah bertanya kepada ibu tentang hidup. Apakah hidup selalu seperti dalam dongeng dengan akhir yang bahagia untuk si pemeran utama seperti yang sering diceritakan ibu setiap malam? Ia menjawab, hidup memang tak seperti itu. Kamu harus mencari kebahagiaan di setiap skenario hidupmu. Dan masalah, akan membuat kau lebih menghargai hidup. Dengarlah Kina! Jika kau berlari di setiap masalahmu, aku akan ada di setiap pelarianmu. Jika kau lelah untuk berlari, aku akan selalu ada di tiap lelahmu sehabis berlari. Dan jika kau ingin menantang dalam resah masalahmu, berikan tanganmu, aku akan menuntunmu erat sampai ia tak lagi kau dapati." Aku mencoba menenangkan Kina sambil mengusap rambutnya dan menahan air matanya yang berada di ujung dahinya yang segera akan jatuh itu.
Perlahan tangisnya mulai berhenti. Sesaat ia menatap mataku dalam. Mata indah yang terlalu kekal untuk mengenal duka. Kemudian ia tersenyum lalu memeluku erat, sangat erat.
"Terimakasih, kau selalu ada dalam setiap resahku. Aku menyayangimu." ucap Kina dalam peluknya.
Kina ku malang. Kina ku sayang. Kina teman kecilku. Kina teman terbaikku. Kina cinta pertamaku.
Hari itu aku bangun lebih awal dari biasanya. Rumah dalam keadaan sepi, yang terdengar hanya suara burung parkit milik bapak dari teras rumah. Sinar matahari menyusup merah melewati pohon palem yang telah ditanam ibu sewaktu aku belum lahir. Aku membuka jendela kamar. Kina berdiri di depan pintu, lengannya terbalut perban. Hasil lomba lari yang ia ceritakan kemarin lusa kepadaku dengan penuh gembira walau luka tergores di tanganya karena ia terjatuh.
Cuaca sedang baik, aku dan Kina suka jalan kaki beberapa kilometer dari rumah menyusuri jalan-jalan baru yang masih banyak ditumbuhi ilalang. Kita selalu menyukai tempat-tempat sepi. Mencari tanaman atau bunga-bunga baru yang belum pernah kita lihat. Mencoba mengungkap misteri-misteri hari. Namun tetap, tempat favorit kita adalah saung di halaman rumah Kina.
Malam itu di saung saat aku bertemu kembali dengan Kina. Entahlah, apakah hari itu merupakan salah satu hari yang paling tak ingin kuingat namun tak pula ingin kulupa.Setiap sudut halaman saung diliputi warna kelabu yang menyesakan.
Aku dan Kina berbaring menghadap langit gelap.
"Apa yang kau takutkan saat gelap, Kin?" aku bertanya. Lalu dia tertawa kecil sembari melihat kearahku. Hmm apa ya? Kina berpikir. Mungkin aku takut gelap karena nanti akan ada hantu dalam dinding-dinding kamar. Kalau kamu? Kina bertanya balik. Sambil memejamkan mata aku menjawab; kematian. Lalu saat aku membuka mata Kina tengah menatap ku sinis seakan tak setuju dengan jawabanku. Lalu aku tertawa agar ia tahu bahwa aku hanya bercanda.
Kina, sesungguhnya aku jauh lebih takut pada ruang hitam gelap yang akan ditinggalkanmu saat engkau menghilang dari kehidupanku. Semoga kau dengar lirihan hati ini.
Tiba-tiba, "Kina!!! Masuk ke rumah!!!" teriak Ayah Kina dari depan pintu. Aku masih ingin disini, jawab Kina. Ayah Kina semakin marah ketika mendengar jawaban Kina. Ia menghampiri dengan wajah memerah.
"Ayo masuk!"
"Aku masih mau disini, Yah."
"Kamu kalau dibilangin tak pernah mau nurut," maki Ayahnya sembari menjewer dan menyeret Kina kedalam rumah.
Seketika aku reflek memegang tangan Kina. Sekarang giliranku yang dimaki Ayahnya. Ayahnya malah menjewer Kina semakin keras. Kadang disertai pukulan ke paha. Kina pun menangis. Bukan maksud ingin melawan orang tua, tapi tindakan ayahnya menurutku sudah kelewat batas. Aku memukul tangan Ayahnya Kina yang amat besar. Ia semakin marah kepadaku.
"Kamu anak ingusan pulang ke rumahmu!!!" bentak Ayahnya.
Kemudian Kina diangkat. Kina berontak sembari memanggil-manggil namaku. Tangisnya perlahan hilang saat ia memasuki rumahnya. Aku tak enak hati dengan Kina sebetulnya karena telah memukul ayahnya. Kemudian aku mencoba menulis selembar surat kecil permintaan maaf yang kuselipkan dijendela kamarnya.
"Kina maaf, bukan maksudku ingin melawan Ayahmu. Aku cuma berusaha melindungimu. Aku amat menyayangimu." Isi surat yang kuselipkan di jendela kamarnya.Aku bangun saat matahari sudah hampir berdiri tegak. Panas dan udaranya membuatku merasa lemas. Dan hawa udara yang dihasilkan matahari terasa kelam. Aku berhenti di depan meja makan guna mengambil minum, dan ibu berbicara padaku. Kina sudah pindah, tadi tengah malam sekali. Aku semakin lemas. Pindah kemana? Ibu tak tahu, mereka pindah tak memberi kabar yang jelas.
Dan mulai malam itu, aku belum pernah bertemu lagi dengan Kina.
Kina, gadisku dalam gelap. Cahaya dalam gelap dongeng-dongengku. Aku sungguh menyesal, tak sempat menungkapkan yang sebenarnya kepadamu apa yang paling ku takuti ketika gelap di malam itu.
Kina, seperti kata ibu, ternyata hidup memang bukan sebuah cerita yang rapi. Akhirnya, sisa-sisa kenangan tidak terkait dengan yang lainnya. Ia berkibar-kibar tak beraturan dalam hembusan angin. Dan ternyata hidup juga bukan sebuah dongeng. Namun aku bersyukur Kina, aku mempunyai dongeng masa kecil yang kita buat bersama-sama.
=====