Kamis, 29 Januari 2015

Gadis Kecil Dalam Gelap

Sebentar kekasih, langit sejak tadi pagi masih gerimis dan suasana sekitar halaman kita berpijak pun masih terlihat suram. Aku ingin bercerita sedikit saja lagi. Tentang masa, masa yang amat lalu. Bila aku memikirkan masa laluku saat ini, aku merasa tampak jauh -- jauh sekali. Mungkin sama jauhnya dengan Pluto atau Bekasi. Ibuku pernah berkata kepadaku; "Berhati-hatilah anakku, kenangan adalah pencerita pertama." Dan aku akan menjadi pencerita kedua untukmu malam ini.

Engkau dapat berbaring dalam pangkuanku, ceritaku akan berbisik melewati celah-celah rambut tipis yang menutupi telingamu. Aku akan bercerita.

Saat masih kecil, aku sering berpikir bahwa hujan hanya turun malam hari. Tapi ternyata, dalam malam tak hanya ada hujan. Ada pula bintang. Jika hujan ada, bintang tak tampak. Begitupun sebaliknya. Aku mencoba memahami, apakah ratapan air hujan mirip dengan cahaya bintang; ada di malam hari namun selama beberapa waktu tertutup oleh benda lain atau cahaya yang lebih terang?

Malam itu hujan amat deras di bulan Januari. Suasana kota amat sunyi. Aku masih mendengar lantunan lagu-lagu Joan Baez yang diputar bapakku lewat tape kesayangannya. Bangunan-bangunan semakin terlihat pucat ketika diguyur hujan. Tiba-tiba di ujung jalan rumahku terdengar suara bantingan pintu yang segera memecah kesunyian malam. Seorang gadis kecil keluar dari pintu itu dengan tersedu-sedu. Usianya sepantaranku. Ia kemudian duduk di saung di halaman depan rumahya. Aku menghampiri.

"Ada apa?" tanyaku. Ia tetap tak bergeming dalam keseduannya. Nama gadis itu Kina. Aku sudah dapat menebak, orangtuanya pasti kembali bertengkar. Sebab ini bukan kali pertama ia menangis.

"Tenanglah, Kina. Aku pernah bertanya kepada ibu tentang hidup. Apakah hidup selalu seperti dalam dongeng dengan akhir yang bahagia untuk si pemeran utama seperti yang sering diceritakan ibu setiap malam? Ia menjawab, hidup memang tak seperti itu. Kamu harus mencari kebahagiaan di setiap skenario hidupmu. Dan masalah, akan membuat kau lebih menghargai hidup. Dengarlah Kina! Jika kau berlari di setiap masalahmu, aku akan ada di setiap pelarianmu. Jika kau lelah untuk berlari, aku akan selalu ada di tiap lelahmu sehabis berlari. Dan jika kau ingin menantang dalam resah masalahmu, berikan tanganmu, aku akan menuntunmu erat sampai ia tak lagi kau dapati." Aku mencoba menenangkan Kina sambil mengusap rambutnya dan menahan air matanya yang berada di ujung dahinya yang segera akan jatuh itu.

Perlahan tangisnya mulai berhenti. Sesaat ia menatap mataku dalam. Mata indah yang terlalu kekal untuk mengenal duka. Kemudian ia tersenyum lalu memeluku erat, sangat erat.

"Terimakasih, kau selalu ada dalam setiap resahku. Aku menyayangimu." ucap Kina dalam peluknya.

Kina ku malang. Kina ku sayang. Kina teman kecilku. Kina teman terbaikku. Kina cinta pertamaku.

Hari itu aku bangun lebih awal dari biasanya. Rumah dalam keadaan sepi, yang terdengar hanya suara burung parkit milik bapak dari teras rumah. Sinar matahari menyusup merah melewati pohon palem yang telah ditanam ibu sewaktu aku belum lahir. Aku membuka jendela kamar. Kina berdiri di depan pintu, lengannya terbalut perban. Hasil lomba lari yang ia ceritakan kemarin lusa kepadaku dengan penuh gembira walau luka tergores di tanganya karena ia terjatuh.

Cuaca sedang baik, aku dan Kina suka jalan kaki beberapa kilometer dari rumah menyusuri jalan-jalan baru yang masih banyak ditumbuhi ilalang. Kita selalu menyukai tempat-tempat sepi. Mencari tanaman atau bunga-bunga baru yang belum pernah kita lihat. Mencoba mengungkap misteri-misteri hari. Namun tetap, tempat favorit kita adalah saung di halaman rumah Kina.

Malam itu di saung saat aku bertemu kembali dengan Kina. Entahlah, apakah hari itu merupakan salah satu hari yang paling tak ingin kuingat namun tak pula ingin kulupa.Setiap sudut halaman saung diliputi warna kelabu yang menyesakan.

Aku dan Kina berbaring menghadap langit gelap.

"Apa yang kau takutkan saat gelap, Kin?" aku bertanya. Lalu dia tertawa kecil sembari melihat kearahku. Hmm apa ya? Kina berpikir. Mungkin aku takut gelap karena nanti akan ada hantu dalam dinding-dinding kamar. Kalau kamu? Kina bertanya balik. Sambil memejamkan mata aku menjawab; kematian. Lalu saat aku membuka mata Kina tengah menatap ku sinis seakan tak setuju dengan jawabanku. Lalu aku tertawa agar ia tahu bahwa aku hanya bercanda.

Kina, sesungguhnya aku jauh lebih takut pada ruang hitam gelap yang akan ditinggalkanmu saat engkau menghilang dari kehidupanku. Semoga kau dengar lirihan hati ini.

Tiba-tiba, "Kina!!! Masuk ke rumah!!!" teriak Ayah Kina dari depan pintu. Aku masih ingin disini, jawab Kina. Ayah Kina semakin marah ketika mendengar jawaban Kina. Ia menghampiri dengan wajah memerah.

"Ayo masuk!"

"Aku masih mau disini, Yah."

"Kamu kalau dibilangin tak pernah mau nurut," maki Ayahnya sembari menjewer dan menyeret Kina kedalam rumah.

Seketika aku reflek memegang tangan Kina. Sekarang giliranku yang dimaki Ayahnya. Ayahnya malah menjewer Kina semakin keras. Kadang disertai pukulan ke paha. Kina pun menangis. Bukan maksud ingin melawan orang tua, tapi tindakan ayahnya menurutku sudah kelewat batas. Aku memukul tangan Ayahnya Kina yang amat besar. Ia semakin marah kepadaku.

"Kamu anak ingusan pulang ke rumahmu!!!" bentak Ayahnya.

Kemudian Kina diangkat. Kina berontak sembari memanggil-manggil namaku. Tangisnya perlahan hilang saat ia memasuki rumahnya. Aku tak enak hati dengan Kina sebetulnya karena telah memukul ayahnya. Kemudian aku mencoba menulis selembar surat kecil permintaan maaf yang kuselipkan dijendela kamarnya.

"Kina maaf, bukan maksudku ingin melawan Ayahmu. Aku cuma berusaha melindungimu. Aku amat menyayangimu." Isi surat yang kuselipkan di jendela kamarnya.
Aku bangun saat matahari sudah hampir berdiri tegak. Panas dan udaranya membuatku merasa lemas. Dan hawa udara yang dihasilkan matahari terasa kelam. Aku berhenti di depan meja makan guna mengambil minum, dan ibu berbicara padaku. Kina sudah pindah, tadi tengah malam sekali. Aku semakin lemas. Pindah kemana? Ibu tak tahu, mereka pindah tak memberi kabar yang jelas.

Dan mulai malam itu, aku belum pernah bertemu lagi dengan Kina.

Kina, gadisku dalam gelap. Cahaya dalam gelap dongeng-dongengku. Aku sungguh menyesal, tak sempat menungkapkan yang sebenarnya kepadamu apa yang paling ku takuti ketika gelap di malam itu.

Kina, seperti kata ibu, ternyata hidup memang bukan sebuah cerita yang rapi. Akhirnya, sisa-sisa kenangan tidak terkait dengan yang lainnya. Ia berkibar-kibar tak beraturan dalam hembusan angin. Dan ternyata hidup juga bukan sebuah dongeng. Namun aku bersyukur Kina, aku mempunyai dongeng masa kecil yang kita buat bersama-sama.



=====

Rabu, 21 Januari 2015

Lelaki dan Valentine

Seorang lelaki yang masih tergolong muda itu tengah merenung di sudut kota ditemani sebatang rokok di sela jemarinya. Perlahan ia menghisapnya, sembari menerawang asap-asap yang dikeluarkan oleh mulutnya. Entah itu hisapan keberapa yang lahir dari rokok di tangannya. Ia merasa menjadi lelaki yang sangat tak berguna, karena ia selalu gagal menyenangkan seorang istri maupun anaknya. Lelaki ini merupakan seseorang yang dianggap "jagoan" dikampungnya. Tapi itu dulu, dulu sekali sebelum lelaki itu memilih untuk berkeluarga. Dan sekarang ia seorang pengangguran, yang setiap hari menjadi perdebatan dengan istrinya. Tak sengaja, ia melihat sebuah iklan di televisi yang menayangkan sebuah tayangan menyambut Hari Valentine. Sebuah Hari Kasih Sayang. Dalam diri ia bergumam; "Apalah artinya hari itu untuk seorang yang tidak berguna sepertiku." Adakah?

Lelaki itu seketika ingat sebuah kisah mafia di Amerika Serikat yang berhubungan dengan Hari Valentine.

***

Pada tahun 1929, Capone menjadi penguasa bisnisnya dan pemimpin geng paling kuat di AS. Ia sangat dikenal di kotanya bahkan seluruh AS. Dan kebanyakan orang di balai kota sudah ada dalam daftar sogokannya, termasuk Walikota. Ia pun tak takut polisi yang kebanyakan memang sudah berhasil ia kuasai.

Tetap ada pertikaian dalam kerajaan Capone. Para algojonya telah menghapus sebagian besar musuh besarnya, tetapi tidak Bugs Moran. Moran merupakan bos gerombolan North Side, gerombolan penjahat sinting. Mereka terus merangsek, terus berusaha mencari kelemahan Capone. Dalam salah satu upaya mereka, adalah saat berhasil menghantam Jack McGurn. Algojo paling berharga yang dimiliki Capone. Tapi McGurn belum mati dan berhasil sembuh.

McGurn adalah seorang pria cerdas, tangguh, usil, dan kejam. Saat itu ia baru berusia 19 tahun ketika ayahnya yang merupakan pedagang kelontong dibantai oleh para gangster. McGurn pun memilih untuk menenggelamkan dirinya kedalam dunia kriminal, menjadi seorang algojo.

Percobaan pembunuhan yang gagal terhadap McGurn adalah sebuah peringatan bagi Al Capone kalau perang yang dimulai dengan tewasnya Dion O'Bannion ditahun 1924 hanya akan berakhir dengan tewasnya mereka (Capone atau Moran).

McGurn yang masih dalam masa penyembuhan, diberi tugas menghabisi Moran. Ia membuat sebuah perangkap bagi Moran dengan umpan yang menggiurkan. Salah seorang dari anak buahnya yang tidak ikut di dalam pasukan pembantaian ini berpura-pura sebagai seorang pembajak yang baru saja mendapatkan barang rampasan berupa wiski Kanada, "barang asli", dan ia berusaha menjual wiski itu dengan cepat dan harga murah. Ia mendekati kelompok Moran, yang langsung menyambar tawaran itu. Pertukarannya diadakan di sebuah gudang.

Tanggal pertukaran ditentukan tanggal 14 Februari 1929 --hari Valentine. Pukul 10.30 pada tanggal itu mereka melihat Moran memasuki gudang itu yang dengan segera melaporkan kepada para algojo. Ternyata mereka membuat kesalahan fatal. Orang yang mereka lihat bukan Moran melainkan Albert Weinshank, seorang yang mirip Moran. Didalam gudang itu ada tujuh orang termasuk Weinshank.

Tanpa diduga, sebuah mobil polisi tiba, ada tiga orang polisi berseragam dan dua orang polisi berpakaian preman. Dipersenjatai shotgun dan senapan mesin. Para polisi segera menyergap dan meringkus para gangster itu dengan senapan teracung. Mereka yang ada di dalam gudang itu mungkin mengira kalau para polisi ini adalah polisi yang paling dungu di Chicago. Moran membayar banyak uang kepada para petinggi kepolisian untuk membuatnya kebal hal-hal menyebalkan seperti pengggrebekan. Para gangster tidak berusaha melawan karena mengira ini hanyalah kesalahpahaman kecil.

Para penggrebek ini menyuruh ketujuh orang ini berdiri berjajar di depan tembok serta menggledah mereka dan mengambil senjata mereka. Dan ketika itulah anak-anak buah Moran menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Orang-orang itu sama sekali bukan polisi, tetapi para algojo yang menyamar sebagai polisi. Mereka pun memuntahkan peluru, menghantam para pria tak bersenjata itu dengan senapan mesin dan shotgun. Gudang itu pun lantas terdengar suara bising, asap mesiu, darah dan mayat.

***

Tak akan ada Hari Valentine yang buruk, yang akan ada hanya hari-hari baik yang ia persembahkan bersama keluarganya. Hidup adalah keberanian menghadapi tanda tanya. Sekalipun koma dan titik berencana untuk berkhianat. "Aku harus berani memulai alinea baru." tegas lelaki itu.

Bus kota yang dinantinya tiba.

Dengan membawa selembar surat lamaran pekerjaan yang dilapisi map dan segenggam harap masa depan, ia pun pergi.


====

Selasa, 20 Januari 2015

Emak Tua


Jika tidak silap, terakhir kali aku menengok ke arah jam tanganku waktu menunjukan pukul 21:05 malam itu. Aku sedang menunggu kereta di Stasiun Palmerah tujuan Parungpanjang yang juga akan berhenti di Stasiun Rawabuntu, tempat pemberhentianku. Malam itu Stasiun Palmerah tak begitu ramai. Hanya ada beberapa puluh orang yang menunggu di peron dengan wajah yang letih.

Tak lama, kereta tujuan Parungpanjang tiba di Stasiun Palmerah. Tampak dari luar kursi-kursi penumpang dalam gerbong lengang. Akupun masuk dari pintu kereta yang terbuka tepat di depanku. Aku menengok ke kiri, tampak seorang perempuan tua, kutaksir umurnya sekitar 60 tahun sedang tertidur di pojok kursi gerbong kereta beserta − kucermati sebuah barang jualan tepat di bawahnya. Kebetulan bangku di sebelah perempuan tua itu kosong, akupun memutuskan duduk tepat di sebelahnya.

Beberapa menit kemudian kepala ibu itu terjatuh tepat di sisi kanan bahuku. Aku sedikit terkejut. Kuperhatikan wajahnya sangat amat letih. Tak ada niat sedikit pun dalam diriku untuk menegur yang pastinya akan membangunkan perempuan tua itu. Ah tak apalah, mungkin saking letihnya sampai ia tak sadar sedang bersandar dibahu orang lain.

Aku sibuk dengan telpon genggamku, sebagaimana orang-orang yang lainnya dalam gerbong itu.

“Tooooooooooot….” suara klakson kereta yang sedang berpapasan satu sama lain sontak membuat ibu tua itu terbangun. Seketika ia menatapku dengan masih sedikit linglung.

“Eh maaf ya, dek.” ucap ibu tua itu

“Iya, tak apa bu.” balasku dengan sedikit senyum

Ia kemudian membenarkan kerudungnya yang agak sedikit berantakan kemudian memeriksa kembali barang jualannya. Aku mencoba memulai percakapan.

“Ibu mau kemana?”

“Emak mau ke Parungpanjang, dek. Tadi habis jualan di Tanah Abang.”

Oh rupanya, ibu tua ini lebih senang jika dipanggil dengan sebutan Emak. Kucoba meneruskan percakapan dengan memanggil dia emak.

“Sendiri aja, mak?”

“Iya. Abis mau sama siapa lagi. Kalau dulu sama bapak, tapi bapak udah gak ada dari sembilan tahun yang lalu. Tiga tahun sebelumnya bapak udah batuk-batuk, emak mau bawa ke dokter tapi bapaknya gak mau. Paling cuma batuk biasa, lagi pula biayanya juga gak ada, kata bapak begitu. Ya mau gimana lagi dek, kita mah orang gak punya, sekedar beliin anak cucu baju baru aja udah seneng banget, gimana mau mikir biaya buat berobat. Emak mah mikirnya yang penting anak cucu bisa seneng udah cukup banget.” jelas si emak

Aku tak sampai hati sebenarnya melajutkan percakapan ini setelah mendengar penjelasan si emak tadi. Tapi justru emak sekarang yang memulai pembicaraan.

“Adek habis pulang kerja?”

“Oh engga mak, saya masih kuliah. Tadi habis main.”

Ah nampaknya perempuan ini tak keberatan dengan obrolan ini. Aku mencoba bertanya lebih lanjut. Lagi pula ia juga menejelaskannya dengan sangat ramah yang kadang disertai senyuman.

“Jualan apa mak di Tanah Abang?”

“Pecel, gorengan, kopi-kopian begitu-gitulah dek.”

Sungguh aku amat kagum dengan kegigihan emak tua ini di usianya yang segitu. Tak jarang aku melihat wanita-wanita sepantarannya yang hanya menjadi peminta-minta. Tapi ia tidak.

Kemudian aku teringat sebuah buku Daoed Joesoef yang bejudul “Emak”. Di salah satu bab nya terdapat cerita pengalaman antara Daoed Joesoef, Emaknya, dan pengemis. Ada beberapa poin yang dapat dipetik tentang kisah pengemis dalam buku itu.

Pertama, pengemis itu dengan sengaja menyalahgunakan ayat-ayat suci untuk membenarkan perbuatannya, seolah-olah ayat-ayat ini diturunkan memang demi membenarkan kepengemisan. Dengan begitu dia juga sebenarnya telah merendahkan derajat dan martabat agamanya.

Kedua, dengan meminta-minta sambil berdoa itu, si pengemis mengutak-atik rasa keseagamaan dan kemanusiaan kita

Ketiga, dengan meminta-minta itu, si pengemis tidak hanya menipu kita tapi juga membohongi dirinya sendiri. Dia menipu kita karena telah menutup-nutupi kemalasannya.

Pengemis bukanlah miskin benda. Sebenarnya mereka lebih banyak miskin dalam pikiran, gambaran dan lebih-lebih dalam kemauan. Karena miskin dalam hal-hal yang disebut terakhir itulah makanya mereka melalaikan rahmat Allah yang tersedia di sekitar kita.

Syahdan aku pun bertanya lebih lanjut kepada emak.

“Anak emak ada berapa?”

“Anak emak satu. Cewek. Cucu emak juga satu, umurnya baru 5 tahun. Cewek juga. Suaminya bilang 3 tahun lalu mau jadi kuli bangunan di daerah Bogor, tapi sampe sekarang gak pulang-pulang. Minggat kali.”

“Selama 3 tahun gak pernah ngasih kabar, mak?”

“Engga. Ah emak mah ambil hikmahnya ada dek. Anak emak disakitin terus kalo pas ada dia di rumah”

Berengsek betul lelaki itu, gumamku dalam hati. Dia telah menelantarkan 3 perempuan sekaligus. Yang pertama istrinya, anaknya, dan mertuanya. Sebagai seorang lelaki saya menundukan kepala aku sekaligus berbicara dalam diri sendiri.  Jangan sampai kau menjadi lelaki seperti itu ucap diriku sendiri. Memang tidakkah kata perempuan itu sendiri berasal dari kata “empu” yang penuh dengan pengertian penuh kehormatan dan kesakitan? Tapi lelaki itu kelewat berengsek.

Ada suatu kisah dalam novel “Perempuan Di Titik Nol” karya Nawal el-Saadawi. Terkisah seorang perempuan bernama Firdaus dari sel penjaranya, tempat dia melaksanakan hukuman matinya. Dikarenakan dia telah membunuh seorang lelaki yang merupakan germo. Firdaus merupakan kisah seorang wanita yang telah didorong oleh rasa putus asa ke pojok yang paling kelam. Wanita ini, sekalipun muak dan putus asa, telah menghidupkan dalam hati mereka. Suatu kebutuhan untuk menantang dan melawan kekuatan-kekuatan tertentu yang telah merampas hak manusia untuk hidup, untuk bercinta, dan menikmati kebebasan yang nyata.

Entah, tapi aku dapat melihat sebuah kemarahan akan kenyataan pahit namun di satu sisi ketegaran dan kegigihan itu tampak jelas disaat aku menelusuri garis-garis dahi, bibir, dan berujung pada matanya.

Tak terasa kereta sudah berhenti di Stasiun Rawabuntu, tempat pemberhentianku. Aku memakirkan motorku di stasiun ini. Tapi, aku ingin sedikit banyak berbincang lagi dengan emak tua ini. Aku pun memutuskan untuk berhenti di Stasiun Serpong saja. Biar nanti aku balik kembali ke Rawabuntu untuk mengambil motorku.

Jarak Stasiun Serpong – Rawabuntu kurang lebih 2 menit perjalanan kereta. Berarti aku hanya punya waktu untuk pamit saja. 

Kereta berangkat lagi menuju Stasiun Serpong.

“Mak, saya harus turun di Stasiun Serpong. Maaf kalau saya banyak nanya sampai masalah yang seharusnya orang lain tidak tahu.”

“Ah gapapa dek, emak mah malah seneng kalo mau ada yang dengerin cerita emak. Hati-hati di jalan.” ucap emak tua tersebut

Kereta sampai di Stasiun Serpong.

“Iya mak, emak juga hati-hati nanti di jalannya.”

Aku menyodorkan tangan bermaksud bersalaman kepada emak. Emak pun membalas. Tangannya begitu legam dan kasar. Seolah melukiskan betapa kerasnya perjuangan emak tua ini.

Aku pun turun dari kereta. Emak menoleh dari jendela, sembari melempar senyum dan melambaikan tangan. Aku membalas. Dalam hati seperti ada yang mengiris saat senyuman emak semakin tak terlihat ketika kereta semakin menjauh. Sungguh pelik.

Sambil menunggu kereta arah sebaliknya datang, aku bermunajat. Ya Tuhan, permudahlah segala sesuatunya untuk emak tua tadi. Aku sangat percaya Tuhan pasti akan menghargai sikap dan jerih payah seperti itu. Bukankah Tuhan sendiri yang mengatakan bahwa manusia tidak akan menjadi lebih baik nasibnya kalau dia sendiri tidak berusaha untuk memperbaikinya. Dengan perkataan lain, doa saja kiranya tidak cukup, masih diperlukan sekali kerja keras.

Kereta tujuan Rawabuntu pun datang.

Aku pulang.


=====