Kamis, 27 Agustus 2015

Di Sebuah Kota Bernama Oscar Wilde dan Morrissey



 Sumber: Foto Pribadi

Tepat di pusat kota, didirikan patung Pangeran yang Selalu Bahagia. Seluruh tubuhnya dilapisi dengan lembaran-lembaran emas, matanya berupa 2 buah batu safir yang berkilauan, dan di ujung pedangnya terdapat batu ruby besar berwarna merah.

Ia memang sangat dikagumi. “Dia elok seperti kincir angin,” kata salah seorang dewan penasihat kota yang ingin dipuji orang karena ia memiliki selera seni yang tinggi. “Tapi kurang bermanfaat,” tambahnya lagi. Ia takut orang-orang menganggap dirinya tidak praktis, padahal ia memang begitu.

“Tak bisakah kau seperti Pangeran yang Selalu Bahagia itu?” kata seorang ibu kepada anaknya yang menangis meminta sesuatu.”

Tunggu sebentar….

Masa kecilku adalah di jalan, di jalan, di jalan, dan di jalan. Jalan-jalan yang menggambarkanmu dan jalan-jalan yang membatasimu, jalan tanpa rambu lalu-lintas, jalan bebas hambatan, atau jalan raya. Di suatu tempat, ketika hujan turun sangat deras, menjadikan kita seperti orang-orang yang hidup terkurung dalam ruang kekesalan dan itu tergambar dalam wajah kita.


Bisa membedakan? Tiga paragraf pertama adalah karya Oscar Wilde dalam kalimat pembuka untuk cerpennya yang berjudul “Pangeran yang Selalu Bahagia”, sedangkan paragraf terakhir adalah kalimat pembuka dalam Morrissey Autobiography  (Kalimat pembuka Morrissey tadi saya terjemahkan sendiri, mohon maaf jika berantakan).

“Most of my inspiration comes from outside music - especially literature and particularly Oscar Wilde”.  Oscar Wilde punya pengaruh yang sangat besar dalam perjalanan hidup seorang Morrissey. Banyak juga yang mengaitkan bahwa pengaruh Oscar Wilde untuk seorang Morrissey tak sekedar urusan literasi saja, tapi juga mempengaruhi orientasi seksualnya. Terlepas dari orientasi seksual mereka berdua, saya tak ingin membahasnya di sini.

Sebenarnya, sastra sudah mempengaruhi Morrissey jauh sebelum ia terjun ke dunia musik. Morrissey mempunyai seorang ibu yang juga adalah seorang pustakawati. Morrissey sudah “dicekoki” dengan tulisan-tulisan Oscar Wilde saat masih berusia 8 tahun.  Sampai akhirnya ia semakin terobsesi dengan tulisan-tulisan Oscar Wilde. “Every single line affected me in some way.”

Morrissey sangat menyukai kesederhanaan dari tulisan-tulisan Oscar Wilde.

Pun saat ia memasuki jenjang sekolah. Ujarnya, sastra jugalah yang membantu ia “melarikan diri” dari malangnya pendidikan. Morrissey melahap sekaligus mempelajari puisi-puisi dari Edward Lear, Hilaire Bellow, Dorothy Parker, Steve Smith, WH Auden, John Betjeman dan khususnya Oscar Wilde. “Oscar Wilde exploded with original wisdom, advocating freedom for heart and soul, and for all − regardless of how the soul swirled.” (lih. Morrissey Autobiography: 98)

Dalam autobiografinya, Morrissey mengutip puisi-puisi dari penyair-penyair yang sudah disebutkan di atas. Dan ini adalah puisi Oscar Wilde yang dikutip di dalam autobiografinya:
Lily-like, white as snow
She hardly knew
She was a woman, so
Sweetly she grew.
Coffins-board, heavy stone
Lie on her breast;
I vex my heart alone,
She is at rest,
Peace, peace; she cannot hear
Lyre or sonnet;
All my life’s buried here
Heap earth upon it

Dan ketika Morrissey sudah terjun ke dunia musik dengan mengawali karir bersama The Smiths, pengaruh-pengaruh sastra yang Morrissey baca selama ini sangat kental dalam lagu-lagu The Smiths. Dan khususnya pengaruh dari karya-karya Oscar Wilde.

Seperti dalam kutipan lirik di lagu The Smiths yang berjudul ‘Miserable Lie’ (“...flower-like life…”) yang diangkat dari karya Oscar Wilde dengan judul ‘De Profundis’ ("...by his sweetness and goodness to her through the brief years of his flower-like life…").

Kemudian lirik “is that clever” dan “everybody's clever nowadays”,  masih dari lagu The Smiths yang kali ini berjudul ‘Rubber Ring’ disadur dari rekaman audio Oscar Wilde: The Importance Of Being Earnest’.

Nama Oscar Wilde pun tak jarang disebut dalam lagu-lagu ciptaan Morrissey: “…Keats and Yates are on your side, while the love of Wilde is on mine…” (The Smiths – Cemetry Gates).

Kecintaan Morrissey pada bunga pun mungkin bermula dari Oscar Wilde. Morrissey mengaku sangat menyukai cerpen Oscar Wilde yang berjudul 'The Nightingale And The Rose' (Bunga Mawar dan Burung Bul-Bul). “There was a piece called 'The Nightingale And The Rose' that appealed to me. This sense of truly high drama zipped through everything he wrote. He had a life that was really tragic and it's curious that he was so witty. Here we have a creature persistently creased in pain whose life was a total travesty…


Dalam cerpen itu sendiri mengisahkan pengorbanan seekor burung kepada seorang pemuda yang tengah dimabuk cinta. Pemuda itu ingin mengajak wanita idamannya berdansa, namun si wanita hanya ingin berdansa dengan lelaki yang memiliki bunga mawar berwarna merah. Mendengar keluhan pemuda tersebut, si burung pun berusaha membantu mencari bunga mawar merah tersebut. Ia sangat kesulitan mencarinya, yang banyak ia jumpai adalah bunga mawar yang berwarna lain. Sampai suatu kesempatan ia berhasil menemukan tempat di mana mawar berwarna merah dapat tumbuh. Dengan syarat warna merah itu sendiri diambil dari darah yang mengalir di jantung si burung tersebut. Kemudian kisah itu berakhir pelik. Sangat pelik.

…then, I used flowers because Oscar Wilde always used flowers.”




Dan baru-baru ini, lewat websitenya Morrissey mengumumkan akan segera menerbitkan sebuah novel. Can’t wait...!!!

Akhirulkalam, sedikit menyadur kalimat pembuka Morrissey saat konser di  Greek Theater, Berkeley, CA tahun 2002: All I ask in life is that God blesses you, that Oscar Wilde and Morrissey blesses you!

It's Oscar Wilde's and Morrissey's town, we just live in it.




=====





Minggu, 02 Agustus 2015

Sepotong Ingatan dan Nasib Tanah Bermain



Minggu pagi tadi, ada perasaan yang entah, tetiba membawa saya kembali menyusuri tempat yang dahulu menjadi semacam “tanah” bermain bersama dengan teman-teman semasa kecil – namun tadi saya menyusuri tanah ini hanya seorang diri. Mungkin ingatan yang meminta untuk sekedar dirawat. Konon, ingatan memang harus selalu dirawat, karena dalam ingatan terdapat kenangan-kenangan. Apabila kenangan-kenangan goyah dalam susunan ingatan, ia sama halnya seperti sebuah tenda yang dipasang secara serampangan. Kegoyahan yang perlahan-lahan bergerak menuju kematian akan ingatan itu sendiri. Kemudian yang tersisa hanya masa kini. Akan terasa sangat membosankan bukan?

Tiba-tiba Bung Chairil hadir dengan kesunyiannya sendiri dan menyapa: “Hei, engkau! Bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyiannya masing-masing!”

Ya. Sunyi, Bung! Sebagaimana dahulu – karena memang hari libur – sebelum tanah ini bising – bahkan termat − karena sekarang telah berubah menjadi kawasan perindustrian yang padat. Masing-masing sibuk berlalu-lalang dengan kepentingannya masing-masing. Namun bukankah masing-masing pun selalu memiliki kesunyiannya masing-masing − walaupun setitik? Adakah setitik itu tersisa dari kesibukan di tanah ini? Mungkin. Minggu pagi tadi saya dan tanah ini berbagi kesunyian. Kami berlalu-lalang dalam kesunyian kami berdua.

Sunyi yang perlahan pecah oleh ingatan-ingatan masa lalu. Ingatan akan gelak tawa bernada jujur yang tumpah dari mulut gerombolan  bocah yang berlari-larian di atas tanah ini mengikuti imajinasi-imajinasi liar mereka. Semua orang dewasa memang pernah menjadi bocah, namun seberapa banyak yang ingat? Atau lebihnya, seberapa banyak yang paham?

Ingatan kembali melambung jauh pada sebuah kisah klasik. 

Alkisah seorang pilot terdampar di Gurun Sahara. Pesawatnya terjatuh. Singkat cerita, pada suatu fajar pilot itu terbangun, kemudian ia mendapati sesosok pangeran kecil yang mengaku berasal dari planet lain. Tak lama pangeran kecil itu meminta pada sang pilot untuk menggambarkan sebuah domba. Pilot itu kemudian berkata bahwa ia tidak bisa menggambar domba. Ingatan pilot itu melesap kebelakang.

Di mana dahulu ada seorang bocah menggambar seekor ular boa yang menelan seekor gajah secara utuh. Dalam gambarnya, yang terlihat hanya perut si ular yang menggelembung. Sesosok gajah itu sudah tak tampak lagi karena  memang sudah di telan utuh oleh si ular boa tersebut.

Kemudian si bocah  itu pun menujukan gambarnya pada orang dewasa. “Apa kau tak takut melihat gambar ini?” tanya si bocah. Tahu apa tanggapan dari orang dewasa tersebut? “Apa yang harus di takutkan pada gambar sebuah topi? Lebih baik kau berhenti menggambar dan mulailah belajar hal-hal lain. Seperti geometri, aritmatika, geografi dan lain-lain.” jawab si orang dewasa itu.


Bocah itu pun akhirnya berhenti menggambar dan tumbuh besar menjadi seorang pilot.

Kini ia mencoba menggambarkan kembali gambar ular boa yang tengah menelan seekor gajah secara utuh tersebut. “Dapatkah kau melihatnya?” tanya si pilot. “Dapat,” jawab pangeran kecil tersebut. Sontak pilot itu pun terkejut. Lalu pilot itu mencoba menggambar sesuai permintaan pangeran kecil tersebut, karena beberapa gambar awalnya ditolak oleh pangeran kecil tersebut. Pangeran kecil itu ingin gambar seekor domba.

Akhirnya pilot itu menggambar sebuah kotak sembari berkata pada pangeran kecil tersebut; “Di dalam kotak ini ada seekor domba.” Pangeran kecil tersebut pun kembali dapat melihatnya dan dengan riang hati menerima gambar tersebut.

Sebuah kisah sederhana namun mengandung makna yang dalam karya Antoine de Saint Exupéry dalam novel klasiknya yang berjudul ‘Le Petit Prince’ (Pangeran Kecil).

Rupanya orang dewasa memang tak – mungkin akan pernah – paham akan sebuah imajinasi yang sekiranya tak kasat mata – atau bahkan tak logis. Adalah benar memang seperti yang pernah di katakan oleh Rabindranath Tagore dalam sajaknya: “Nelayan menyelam mencari mutiara, saudagar berlayar mengarungkan perahu, sementara anak-anak menghimpun batu dan menebarkannya kembali…”

Apakah imanjinasi sudah mengering dari mereka – para orang dewasa? 

Ihwal nasib tanah ini, sekarang saya – yang bisa dikatakan sudah dewasa – mencoba kembali berimajinasi di atas tanah ini sembari memandangi tanah ini. Nasib memang diserahkan kepada manusia untuk digarap sendiri. Sialnya, nasib tanah ini pun ditentukan oleh manusia. Masing-masing selalu merasa bertanggungjawab atas nasibnya. Kemudian sebuah paradoks baru muncul: apakah nasib merasa bertanggungjawab atas masing-masing itu sendiri? Bagaimana jika ia tidak?

Akhirnya semua harus berdamai dengan nasibnya masing-masing. Tunduk pada kesunyiannya masing-masing. Ingatan akan tanah bermain ini kembali hidup. Ia tak jadi mati. Kini yang hampir mati adalah kesunyian dari tanah ini. 

Bung Chairil kembali hadir, giliran tanah ini yang mendapat sapaan: “Hei, tanah! Bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kebisingannya masing-masing. Mampus kau dikoyak-koyak bising!”





 Serpong, 2 Agustus 2015



=======










Minggu, 07 Juni 2015

Dara



HIDUP memang seperti sebuah tamasya bukan? Dan kita tak lebihnya seperti seorang pelancong berbekal satu tiket pulang. Sampai pada waktu, tiket pulang itu menjadi satu-satunya yang tersisa di dalam saku. Satu-satunya tujuan dalam langkah terakhir sebuah tamasya. Sejauh apapun sebuah langkah, toh pada akhirnya semua terhenti pada langkah ketujuh pelayat terakhir yang menjauhi pusara kita.

Kutengok kembali tiket di tangan kiri, di situ tertera kereta berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 22:30 WIB dan aku duduk di kursi nomor 1B. Kucoba telusuri nomor-nomor kursi di dalam gerbong ke-1 Kereta Api Progo tujuan Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Ternyata kursi bernomor 1A-1B terletak paling pojok gerbong sebelah kanan arah datangnya kereta. Seorang perempuan sudah duduk di atas kursi nomor 1A. Dia menoleh kepadaku, senyumnya pun rekah. Dan kau harus tahu, lekuk-lekuk pipi yang dihasilkan oleh senyumannya seolah memberi isyarat; “Ini akan menjadi perjalanan yang mendebarkan, Tuan!”

Seorang perempuan cantik duduk di sebelahku untuk perjalanan yang kurang lebih memakan waktu 8 jam. Tiap ruas-ruas senyumnya mungkin memang dirangkai dalam sebuah isyarat kesempurnaan. Rambutnya tergerai, sedikit berantakan. Di lehernya terjuntai sepotong kalung liontin berbentuk seekor burung. Kucoba tebak, itu berbentuk burung dara. Namun, saat kita berbagi tatap, yang kudapati di dalam matanya adalah rangkuman sebuah kesenduan. “Apa yang terjadi, Nona? Ceritalah kepadaku,” kataku−tak lebih hanya sebuah pertanyaan yang di lontarkan dalam hati.

Dengan perasaan berdebar, aku mencoba memulai percakapan. Tak elok rasanya saat seorang perempuan sudah melempar senyum paling manis dan kubalas hanya dengan senyum pula. Satu atau dua patah kata mungkin dapat mencairkan suasana dan perasaan.

“Sendiri saja, Nona?”

“Apakah aku terlihat seperti seorang Presiden yang dikawal oleh tujuh orang paspampres?” ia berkelakar.

“Ah tidak, Nona! Kau lebih terlihat seperti satu dari tujuh kawanan bidadari yang selendangnya diambil oleh Jaka Tarub.”

Kita tertawa. Kereta sudah berangkat sedari tadi, tepat setelah rintik gerimis jatuh berakhir di jendela kursi bernomor 1A-1B dan jantung yang berdebar semakin riuh.

“Begini saja, akan kuberi tahu namaku. Agar kau tak melulu memanggilku dengan sebutan ‘Nona’. Namaku Dara.”

“Persis seperti kalung liontin berbentuk burung dara yang terjuntai di lehermu. Namaku …,”

“Simpan saja namamu! Akan bahaya jika aku sampai tahu namamu,” tukasnya.

Apa maksud perempuan ini? Dan apa yang terjadi di masa lalunya? Dari caranya bertutur, selalu ku perhatikan secara teliti bibirnya yang kadang menguncup kemudian rekah seranum bunga matahari. Sesekali pandanganku berpindah, menatap dalam kedua matanya. Tapi tetap, di balik senyumnya yang terlampau mempesona itu, ternyata perempuan ini tak cukup pandai menyimpan duka yang terangkum di matanya. Tatapannya adalah tatapan kegelisahan.

Udara semakin mendingin. Waktu menujukan tengah berada di antara jarak penghujung malam dan pagi yang terlampau pagi.  Kereta berjalan cepat, tak dapat ku ingat stasiun-stasiun yang sudah terlewati. Kini kereta menuju stasiun selanjutnya. Aku mengeluarkan iPod.

“Kau ingin mendengarkan bersama?”

Dia terseyum mengiyakan. Aku beri earphone sebelah kiri.

Fur Elise, Beethoven?” tanyanya.

“Ya. Kau suka?”

“Apakah kau sedang merasa melankolis malam ini?”

Aku terseyum, menatap kembali kedua matanya.

“Bagaimana kau bisa menebak seseorang sedang melankolia atau tidak hanya dari lagu yang sedang dia dengar?”

“Apakah kau tahu, lagu ini tercipta saat Beethoven sudah benar-benar tuli? Duka ternyata memang tak pernah bisa pandai bersembunyi. Sekalipun sepi sudah berusaha menutup-nutupi. Yang terjadi malah kutuk kesepian.”

Ya, Nona! Seperti duka yang bersemayam di matamu. Mengapa matamu begitu berduka? Siapa yang telah meninggalkanmu? Apa yang terjadi pada masa lalumu? Pertanyaan-pertanyaan itu bergaung hebat di dalam pikiranku.

Kereta Api Progo kemudian berhenti di stasiun selanjutnya. Aku tak tahu kereta ini sedang berhenti di stasiun apa. Sepuluh menit berlalu, kereta masih tak kunjung jalan.

“Apa kau tahu juga mengapa kereta berhenti cukup lama di stasiun ini?” tanyanya.

“Hmm…mungkin sedang menunggu penumpang lain?”

“Salah. Masinis harus menunggu sekawanan burung melintas. Baru kereta dapat jalan kembali.”

“Mengapa seperti itu?”

“Baiklah akan ku ceritakan. Sebelum kawanan burung itu melintas.”

Dahulu, di stasiun ini pernah terjadi sebuah kecelakaan kereta api yang cukup hebat. Sebuah kereta malam menabrak lokomotif yang sedang langsir di stasiun ini. Akibat kecelakaan itu, beberapa orang tewas. Kemudian dari puing-puing gerbong yang hancur, muncul sekawanan burung dan terbang bebas meliuk-liuk mengelilingi stasiun ini. Burung-burung itu diyakini sebagai arwah dari para korban. Hingga saat ini, setiap kereta yang melewati stasiun ini harus berhenti dahulu. Menunggu sekawanan burung itu melintas.

“Apakah kau ingin melihat sekawanan burung itu?”

Dia mempersilakanku untuk duduk di kursinya yang berdekatan langsung dengan jendela.

“Jangan kau lepaskan pandanganmu!”

Pandanganku masih tertumbuk keluar. Menanti sekawanan burung yang dikisahkan itu melintas sembari memandangi cahaya lampu-lampu stasiun yang berpendaran. Tak lama sekawanan burung benar-benar melintas. Cukup banyak, kutaksir ada sekitar puluhan burung yang terbang melintasi stasiun dengan sangat anggun.

Kemudian, di antara kawanan burung tersebut, kulihat seekor burung dara berkalung liontin tengah tersenyum manis kepadaku.

Kereta kembali jalan menuju Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta.

Tinggallah aku sendiri di kursi nomor 1A-1B.




=====





Selasa, 17 Maret 2015

Summertime Gadis Berkuteks Merah



…summertime…and the livin’ is easy…
…catfish are jumping…and the cotton is high…


Suara muadzin terdengar samar lewat toa surau yang terlihat di ujung pelopak mata. Panggilan waktu Ashar untuk umat muslim. Teja masih mengintip sebelah mata di kaki langit sebelah barat dan aku sedang terduduk bersama gitarku di atas dipan persisir pantai selatan. Tak ada mercusuar yang menjulang tinggi dan perahu nelayan yang berlalu-lalang. Hanya ada aku, gitarku, dan sisa kehangatan pasir pantai. Bersama sisa-sisa kehangatan pasir pantai, aku coba memainkan sebuah lagu karya George Gershwin−Summertime.

Di awali dengan chord E minor, segalanya terasa seperti sebuah kesenduan. Barangkali hanya aku yang ada di pantai itu, mungkin Tuhan ingin sedikit mendengar karya Geroge Gershwin ini. Atau mungkin deruan ombak yang selalu menari dalam summertime sepanjang tahun? Dengarlah ini!


 ...One of these mornings
You're going to rise up singing
Then you'll spread your wings
And you'll take to the sky....


Summertime kah?” tanya seorang gadis yang tiba-tiba sudah duduk di sebelahku. Gadis itu menggunakan blouse berwarna biru dengan corak bunga matahari berwarna kuning dan oranye, short pants, lengkap dengan kaca mata hitamnya. Ditambah kuteks berwarna merah yang menghiasi jemari kecilnya.

“Ya. Kau tahu juga?”

“Sudah barang tentu. Aku sangat menyukai lagu ini.”

“Syukurlah. Ternyata di dunia ini tak hanya aku yang masih mendengarkan karya George Gershwin. Mungkin jika aku sudah tak ada di dunia, aku baru bisa menemuinya lagi. Atau bahkan mungkin bisa melihat Gershwin memaikannya dengan piano secara live di sana.” Aku berkelakar.

Gadis itu sedikit tertawa. Pandangannya tetap lurus ke depan tanpa menoleh sedikit ke arahku.

“Tapi sedikit sayang, aku lebih menyukai Summertime versi Janis Joplin. Dan menurutku, Janis-lah yang paling cocok membawakan Summertime di antara banyak musisi yang meng-cover-nya. Suara Janis yang parau seakan melukiskan musim panas yang ranggas dalam lagu ini. Ditambah iringan gitar distorsi yang kasar namun kadang amat pilu. Serta impian-impiannya tentang kedamaian batin gaya Timur.”

“Nampaknya kau amat mengidolai Janis Joplin?”

Ia tersenyum, seolah mengiyakan.

Memang, apakah diperlukan alasan yang cukup untuk dapat menyukai Janis Joplin? Janis Joplin mungkin tak semahsyur Cinderella di kalangan wanita. Dan ia memang bukan Cinderella. Dia hanya seorang perempuan berambut pirang yang selalu menjadi bahan olokan teman-temannya. Dia bagaikan seekor itik buruk rupa port arthur yang kemudian bermetamorfosis menjadi burung merak yang memekarkan ekor indah yang menjulang setinggi angkasa.

“Sayang sekali ia tewas di usianya yang baru 27 tahun, sebulan setelah teman se-per-blues-an-nya Jimi Hendrix meninggal. Dan sayang pula, ia meninggal saat sedang menggarap albumnya yang akan diberi judul Pearl.”

“Kau ingin tahu kisah lainnya tentang Janis Joplin?”

“Ya, ceritalah!”

Gadis berkuteks merah itu kemudian bercerita, setelah sebelumnya dia berbaring di atas dipan dan memintaku untuk ikut berbaring pula.

Dia bercerita.

Ada seorang gadis yang tinggal di suatu kampung. Tinggal disebuah gubuk reyot bersama neneknya. Yang tak lain merupakan satu-satunya keluarga yang masih ia miliki. Ia merupakan seorang pemurung. Tak ada yang ingin bermain dengannya. Ia dianggap aneh. Dianggap gila. Karena kebiasaanya yang selalu mengais sisa-sisa senja dalam sebuah botol yang dibawanya. Apa yang dia lakukan? Selalu menjadi bahan tertawaan orang-orang. Kadang ia sampai memanjat tower masjid dengan botol yang di arahkan langsung menuju matahari sore saat matahari itu tak terlihat dari gubuknya.

Sampai suatu ketika, musim penghujan datang. Ia semakin menunjukan sikap yang tidak wajar karena ia tak bisa melakukan kebiasaan anehnya. Ia berteriak-teriak memaki awan hitam yang menutupi tanpa menyisakan sedikit pun ruang untuk matahari. Dan kemudian menangis sejadinya saat hujan benar-benar tumpah. Sialnya, musim penghujan itu tak kunjung berkesudahan.

Neneknya semakin heran di buatnya. Dari yang semula neneknya tak percaya bahwa cucunya gila itu pun kini menjadi percaya olokan orang-orang yang menyebut cucunya itu gila. Sampai-sampai, neneknya meminta bantuan seorang Guru Spiritual untuk membantu “menyembuhkan” penyakit gila cucunya. Mungkin ia butuh ruqiyah. Guru Spiritual itu berbicara kepada neneknya bahwa cucunya sulit untuk disembuhkan. Ia perlu dibawa ke tempat gurunya. Kemudian nenek itu meminta kepada Guru Spiritual itu, “Bawalah ia. Ku percayakan sepenuhnya ia kepadamu.”

Keesokan harinya neneknya meninggal. Guru Spiritual itu tetap akan membawa gadis itu ke tempat gurunya. Karena merasa sudah mendapat amanah dari marhumah neneknya. Guru Spiritual itu membujuk gadis itu untuk mau dibawa olehnya. Gadis itu tak melawan. Tak peduli mau atau menolak, dibawalah ia.

Sampai pada suatu jalan yang dipagari ilalang setinggi orang dewasa, Guru Spiritual itu membawanya ke dalam ilalang sehabis hujan di bulan September. “Diamlah, akan kulucuti pakaianmu. Ini memang bagian dari proses penyembuhan”. Gadis itu berontak melawan. Melawan sebisanya. Namun tenaganya tak cukup banyak untuk bisa melawan Ustadz itu. Ia diperkosa. Gadis itu mencoba segala macam cara untuk melawan. Namun justru membuat Si Guru Spiritual semakin beringas memperkosanya. Hanya tersisa tangis dan suara yang habis sebagai simbol perlawanan. Ia terkulai lemas. Hamparan ilalang dan petrichor semakin menambah susana menjadi senyap.

Setelah Sang Ustadz selesai memperkosa gadis itu, “Pakai kembali pakaianmu!” bentaknya. Tak lama kemudian, “Sleeeebbbb….” sebuah pulpen ditikamkan oleh Si Guru Spiritual ke kedua bola matanya. Ia menjerit sejadinya, namun tak ada yang keluar dari mulutnya. Suaranya sudah habis akibat selalu memaki awan hitam dan menangis.

Dibawanya ia beberapa ratus meter, atau kilo meter, ia tak bisa tahu persis karena kini kedua matanya buta. "Jangan pernah kau mengingat mukaku. Dan jika sampai kau berani berbicara tentang kejadian tadi, aku tak segan untuk merobek pita suaramu. Kau tak akan hanya menjadi buta, namun juga bisu!"

Ditinggalkanlah kemudian ia seorang diri.

"Nampaknya itu bukan kisah Janis Joplin."

“Ha ha ha. Apakah Janis Joplin akan keberatan jika ada seorang gadis dengan sejumlah luka batin yang merasa seakan memang sudah ditakdirkan bertemu dengan Janis Joplin dalam sebuah kisah yang berbeda waktu dan tempat?” Gadis berkuteks merah itu kembali tertawa.

Lambat laun teja berdandan dan kemudian berseri-seri sepantun mutia. Langit berbagi warna. Oranye, biru, putih, dan hitam. Pasir pantai berubah dingin menyambut sendu senja.

“Oh iya, aku belum tahu namamu.”

“Tak perlulah kiranya kau tahu namaku. Cukuplah ingat selalu Janis Joplin.”

Gadis berkuteks merah itu kemudian bangkit dari baringannya. Kemudian ia mengambil botol di saku celananya dan membuka kaca mata hitamnya.

Aku terkesiap.

“Apakah senja sudah bersolek? Tolonglah kau tangkap sisa-sisa senja dan masukanlah ke dalam botol ini. Kemudian kau mainkanlah kembali Summertime, aku ingin bernyanyi. Sebelum Guru Spiritual itu merobek pita suaraku!”

...Summertime....
...So hush little baby
Don't you cry...

Di penghujung lagu, gadis berkuteks merah itu sudah tak bersuara.




=====