…summertime…and the livin’ is easy……catfish are jumping…and the cotton is high…
Suara muadzin terdengar samar lewat toa surau yang terlihat
di ujung pelopak mata. Panggilan waktu Ashar untuk umat muslim. Teja masih mengintip
sebelah mata di kaki langit sebelah barat dan aku sedang terduduk bersama
gitarku di atas dipan persisir pantai selatan. Tak ada mercusuar yang menjulang
tinggi dan perahu nelayan yang berlalu-lalang. Hanya ada aku, gitarku, dan sisa
kehangatan pasir pantai. Bersama sisa-sisa kehangatan pasir pantai, aku
coba memainkan sebuah lagu karya George Gershwin−Summertime.
Di awali dengan chord E minor, segalanya terasa seperti sebuah
kesenduan. Barangkali hanya aku yang ada di pantai itu, mungkin Tuhan ingin sedikit
mendengar karya Geroge Gershwin ini. Atau mungkin deruan ombak yang selalu
menari dalam summertime sepanjang tahun? Dengarlah ini!
...One of these mornings
You're going to rise up singing
Then you'll spread your wings
And you'll take to the sky....
“Summertime kah?”
tanya seorang gadis yang tiba-tiba sudah duduk di sebelahku. Gadis itu
menggunakan blouse berwarna biru dengan corak bunga matahari berwarna kuning
dan oranye, short pants, lengkap dengan kaca mata hitamnya. Ditambah kuteks berwarna
merah yang menghiasi jemari kecilnya.
“Ya. Kau tahu juga?”
“Sudah barang tentu. Aku sangat menyukai lagu ini.”
“Syukurlah. Ternyata di dunia ini tak hanya aku yang masih
mendengarkan karya George Gershwin. Mungkin jika aku sudah tak ada di dunia,
aku baru bisa menemuinya lagi. Atau bahkan mungkin bisa melihat Gershwin
memaikannya dengan piano secara live di sana.” Aku berkelakar.
Gadis itu sedikit tertawa. Pandangannya tetap lurus ke depan
tanpa menoleh sedikit ke arahku.
“Tapi sedikit sayang, aku lebih menyukai Summertime versi Janis Joplin. Dan
menurutku, Janis-lah yang paling cocok membawakan Summertime di antara banyak musisi yang meng-cover-nya. Suara Janis yang parau seakan melukiskan musim panas
yang ranggas dalam lagu ini. Ditambah iringan gitar distorsi yang kasar namun
kadang amat pilu. Serta impian-impiannya tentang kedamaian batin gaya Timur.”
“Nampaknya kau amat mengidolai Janis Joplin?”
Ia tersenyum, seolah mengiyakan.
Memang, apakah diperlukan alasan yang cukup untuk dapat menyukai
Janis Joplin? Janis Joplin mungkin tak semahsyur Cinderella di kalangan wanita.
Dan ia memang bukan Cinderella. Dia hanya seorang perempuan berambut pirang
yang selalu menjadi bahan olokan teman-temannya. Dia bagaikan seekor itik buruk
rupa port arthur yang kemudian
bermetamorfosis menjadi burung merak yang memekarkan ekor indah yang menjulang
setinggi angkasa.
“Sayang sekali ia tewas di usianya yang baru 27 tahun, sebulan
setelah teman se-per-blues-an-nya Jimi Hendrix meninggal. Dan sayang pula, ia
meninggal saat sedang menggarap albumnya yang akan diberi judul Pearl.”
“Kau ingin tahu kisah lainnya tentang Janis Joplin?”
“Ya, ceritalah!”
Gadis berkuteks merah itu kemudian bercerita, setelah sebelumnya
dia berbaring di atas dipan dan memintaku untuk ikut berbaring pula.
Dia bercerita.
Ada seorang gadis yang tinggal di suatu kampung. Tinggal
disebuah gubuk reyot bersama neneknya. Yang tak lain merupakan satu-satunya
keluarga yang masih ia miliki. Ia merupakan seorang pemurung. Tak ada yang
ingin bermain dengannya. Ia dianggap aneh. Dianggap gila. Karena kebiasaanya
yang selalu mengais sisa-sisa senja dalam sebuah botol yang dibawanya.
Apa yang dia lakukan? Selalu menjadi bahan tertawaan orang-orang. Kadang ia
sampai memanjat tower masjid dengan botol yang di arahkan langsung menuju
matahari sore saat matahari itu tak terlihat dari gubuknya.
Sampai suatu ketika, musim penghujan datang. Ia semakin
menunjukan sikap yang tidak wajar karena ia tak bisa melakukan kebiasaan
anehnya. Ia berteriak-teriak memaki awan hitam yang menutupi tanpa menyisakan
sedikit pun ruang untuk matahari. Dan kemudian menangis sejadinya saat hujan
benar-benar tumpah. Sialnya, musim penghujan itu tak kunjung berkesudahan.
Neneknya semakin heran di buatnya. Dari yang semula neneknya
tak percaya bahwa cucunya gila itu pun kini menjadi percaya olokan orang-orang
yang menyebut cucunya itu gila. Sampai-sampai, neneknya meminta bantuan seorang Guru Spiritual untuk membantu “menyembuhkan” penyakit gila cucunya. Mungkin ia butuh ruqiyah. Guru Spiritual itu berbicara kepada
neneknya bahwa cucunya sulit untuk disembuhkan. Ia perlu dibawa ke tempat gurunya. Kemudian nenek itu meminta kepada Guru Spiritual itu, “Bawalah ia.
Ku percayakan sepenuhnya ia kepadamu.”
Keesokan harinya neneknya meninggal. Guru Spiritual itu tetap akan
membawa gadis itu ke tempat gurunya. Karena merasa sudah mendapat amanah dari marhumah
neneknya. Guru Spiritual itu membujuk gadis itu untuk mau dibawa olehnya. Gadis itu tak
melawan. Tak peduli mau atau menolak, dibawalah ia.
Sampai pada suatu jalan yang dipagari ilalang setinggi
orang dewasa, Guru Spiritual itu membawanya ke dalam ilalang sehabis hujan di bulan September. “Diamlah,
akan kulucuti pakaianmu. Ini memang bagian dari proses penyembuhan”. Gadis itu
berontak melawan. Melawan sebisanya. Namun tenaganya tak cukup banyak untuk
bisa melawan Ustadz itu. Ia diperkosa. Gadis itu mencoba segala macam cara untuk melawan. Namun justru membuat Si Guru Spiritual semakin beringas memperkosanya. Hanya tersisa tangis dan suara yang habis sebagai simbol perlawanan. Ia terkulai lemas. Hamparan ilalang dan petrichor semakin menambah susana menjadi senyap.
Setelah Sang Ustadz selesai memperkosa gadis itu, “Pakai kembali pakaianmu!” bentaknya. Tak lama kemudian, “Sleeeebbbb….” sebuah pulpen ditikamkan oleh Si Guru Spiritual ke kedua bola matanya. Ia menjerit sejadinya, namun tak ada yang
keluar dari mulutnya. Suaranya sudah habis akibat selalu memaki awan hitam dan
menangis.
Dibawanya ia beberapa ratus meter, atau kilo meter, ia tak bisa tahu persis karena kini kedua matanya buta. "Jangan pernah kau mengingat mukaku. Dan jika sampai kau berani berbicara tentang kejadian tadi, aku tak segan untuk merobek pita suaramu. Kau tak akan hanya menjadi buta, namun juga bisu!"
Ditinggalkanlah kemudian ia seorang diri.
Dibawanya ia beberapa ratus meter, atau kilo meter, ia tak bisa tahu persis karena kini kedua matanya buta. "Jangan pernah kau mengingat mukaku. Dan jika sampai kau berani berbicara tentang kejadian tadi, aku tak segan untuk merobek pita suaramu. Kau tak akan hanya menjadi buta, namun juga bisu!"
Ditinggalkanlah kemudian ia seorang diri.
"Nampaknya itu bukan kisah Janis Joplin."
“Ha ha ha. Apakah Janis Joplin akan keberatan jika ada seorang gadis dengan sejumlah luka batin yang merasa seakan memang sudah ditakdirkan bertemu dengan Janis Joplin dalam sebuah kisah yang berbeda waktu dan tempat?” Gadis berkuteks merah itu kembali tertawa.
Lambat laun teja berdandan dan kemudian berseri-seri
sepantun mutia. Langit berbagi warna. Oranye, biru, putih, dan hitam. Pasir
pantai berubah dingin menyambut sendu senja.
“Oh iya, aku belum tahu namamu.”
“Tak perlulah kiranya kau tahu namaku. Cukuplah ingat selalu Janis Joplin.”
Gadis berkuteks merah itu kemudian bangkit dari baringannya. Kemudian ia mengambil
botol di saku celananya dan membuka kaca mata hitamnya.
Aku terkesiap.
Aku terkesiap.
“Apakah senja sudah bersolek? Tolonglah kau tangkap sisa-sisa senja
dan masukanlah ke dalam botol ini. Kemudian kau mainkanlah kembali Summertime, aku ingin bernyanyi. Sebelum Guru Spiritual itu merobek pita suaraku!”
...Summertime....
...So hush little baby
Don't you cry...
Di penghujung lagu, gadis berkuteks merah itu sudah tak bersuara.
=====
Tidak ada komentar:
Posting Komentar