Minggu, 02 Agustus 2015

Sepotong Ingatan dan Nasib Tanah Bermain



Minggu pagi tadi, ada perasaan yang entah, tetiba membawa saya kembali menyusuri tempat yang dahulu menjadi semacam “tanah” bermain bersama dengan teman-teman semasa kecil – namun tadi saya menyusuri tanah ini hanya seorang diri. Mungkin ingatan yang meminta untuk sekedar dirawat. Konon, ingatan memang harus selalu dirawat, karena dalam ingatan terdapat kenangan-kenangan. Apabila kenangan-kenangan goyah dalam susunan ingatan, ia sama halnya seperti sebuah tenda yang dipasang secara serampangan. Kegoyahan yang perlahan-lahan bergerak menuju kematian akan ingatan itu sendiri. Kemudian yang tersisa hanya masa kini. Akan terasa sangat membosankan bukan?

Tiba-tiba Bung Chairil hadir dengan kesunyiannya sendiri dan menyapa: “Hei, engkau! Bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyiannya masing-masing!”

Ya. Sunyi, Bung! Sebagaimana dahulu – karena memang hari libur – sebelum tanah ini bising – bahkan termat − karena sekarang telah berubah menjadi kawasan perindustrian yang padat. Masing-masing sibuk berlalu-lalang dengan kepentingannya masing-masing. Namun bukankah masing-masing pun selalu memiliki kesunyiannya masing-masing − walaupun setitik? Adakah setitik itu tersisa dari kesibukan di tanah ini? Mungkin. Minggu pagi tadi saya dan tanah ini berbagi kesunyian. Kami berlalu-lalang dalam kesunyian kami berdua.

Sunyi yang perlahan pecah oleh ingatan-ingatan masa lalu. Ingatan akan gelak tawa bernada jujur yang tumpah dari mulut gerombolan  bocah yang berlari-larian di atas tanah ini mengikuti imajinasi-imajinasi liar mereka. Semua orang dewasa memang pernah menjadi bocah, namun seberapa banyak yang ingat? Atau lebihnya, seberapa banyak yang paham?

Ingatan kembali melambung jauh pada sebuah kisah klasik. 

Alkisah seorang pilot terdampar di Gurun Sahara. Pesawatnya terjatuh. Singkat cerita, pada suatu fajar pilot itu terbangun, kemudian ia mendapati sesosok pangeran kecil yang mengaku berasal dari planet lain. Tak lama pangeran kecil itu meminta pada sang pilot untuk menggambarkan sebuah domba. Pilot itu kemudian berkata bahwa ia tidak bisa menggambar domba. Ingatan pilot itu melesap kebelakang.

Di mana dahulu ada seorang bocah menggambar seekor ular boa yang menelan seekor gajah secara utuh. Dalam gambarnya, yang terlihat hanya perut si ular yang menggelembung. Sesosok gajah itu sudah tak tampak lagi karena  memang sudah di telan utuh oleh si ular boa tersebut.

Kemudian si bocah  itu pun menujukan gambarnya pada orang dewasa. “Apa kau tak takut melihat gambar ini?” tanya si bocah. Tahu apa tanggapan dari orang dewasa tersebut? “Apa yang harus di takutkan pada gambar sebuah topi? Lebih baik kau berhenti menggambar dan mulailah belajar hal-hal lain. Seperti geometri, aritmatika, geografi dan lain-lain.” jawab si orang dewasa itu.


Bocah itu pun akhirnya berhenti menggambar dan tumbuh besar menjadi seorang pilot.

Kini ia mencoba menggambarkan kembali gambar ular boa yang tengah menelan seekor gajah secara utuh tersebut. “Dapatkah kau melihatnya?” tanya si pilot. “Dapat,” jawab pangeran kecil tersebut. Sontak pilot itu pun terkejut. Lalu pilot itu mencoba menggambar sesuai permintaan pangeran kecil tersebut, karena beberapa gambar awalnya ditolak oleh pangeran kecil tersebut. Pangeran kecil itu ingin gambar seekor domba.

Akhirnya pilot itu menggambar sebuah kotak sembari berkata pada pangeran kecil tersebut; “Di dalam kotak ini ada seekor domba.” Pangeran kecil tersebut pun kembali dapat melihatnya dan dengan riang hati menerima gambar tersebut.

Sebuah kisah sederhana namun mengandung makna yang dalam karya Antoine de Saint ExupĂ©ry dalam novel klasiknya yang berjudul ‘Le Petit Prince’ (Pangeran Kecil).

Rupanya orang dewasa memang tak – mungkin akan pernah – paham akan sebuah imajinasi yang sekiranya tak kasat mata – atau bahkan tak logis. Adalah benar memang seperti yang pernah di katakan oleh Rabindranath Tagore dalam sajaknya: “Nelayan menyelam mencari mutiara, saudagar berlayar mengarungkan perahu, sementara anak-anak menghimpun batu dan menebarkannya kembali…”

Apakah imanjinasi sudah mengering dari mereka – para orang dewasa? 

Ihwal nasib tanah ini, sekarang saya – yang bisa dikatakan sudah dewasa – mencoba kembali berimajinasi di atas tanah ini sembari memandangi tanah ini. Nasib memang diserahkan kepada manusia untuk digarap sendiri. Sialnya, nasib tanah ini pun ditentukan oleh manusia. Masing-masing selalu merasa bertanggungjawab atas nasibnya. Kemudian sebuah paradoks baru muncul: apakah nasib merasa bertanggungjawab atas masing-masing itu sendiri? Bagaimana jika ia tidak?

Akhirnya semua harus berdamai dengan nasibnya masing-masing. Tunduk pada kesunyiannya masing-masing. Ingatan akan tanah bermain ini kembali hidup. Ia tak jadi mati. Kini yang hampir mati adalah kesunyian dari tanah ini. 

Bung Chairil kembali hadir, giliran tanah ini yang mendapat sapaan: “Hei, tanah! Bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kebisingannya masing-masing. Mampus kau dikoyak-koyak bising!”





 Serpong, 2 Agustus 2015



=======










Tidak ada komentar:

Posting Komentar