Minggu pagi tadi, ada perasaan yang entah, tetiba
membawa saya kembali menyusuri tempat yang dahulu menjadi semacam “tanah” bermain
bersama dengan teman-teman semasa kecil – namun tadi saya menyusuri tanah ini hanya
seorang diri. Mungkin ingatan yang meminta untuk sekedar dirawat. Konon, ingatan
memang harus selalu dirawat, karena dalam ingatan terdapat kenangan-kenangan.
Apabila kenangan-kenangan goyah dalam susunan ingatan, ia sama halnya seperti
sebuah tenda yang dipasang secara serampangan. Kegoyahan yang perlahan-lahan bergerak
menuju kematian akan ingatan itu sendiri. Kemudian yang tersisa hanya masa
kini. Akan terasa sangat membosankan bukan?
Tiba-tiba Bung Chairil hadir dengan kesunyiannya
sendiri dan menyapa: “Hei, engkau! Bukan
maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyiannya masing-masing!”
Ya. Sunyi, Bung! Sebagaimana dahulu – karena memang
hari libur – sebelum tanah ini bising – bahkan termat − karena sekarang telah berubah
menjadi kawasan perindustrian yang padat. Masing-masing sibuk berlalu-lalang
dengan kepentingannya masing-masing. Namun bukankah masing-masing pun selalu
memiliki kesunyiannya masing-masing − walaupun setitik? Adakah setitik itu
tersisa dari kesibukan di tanah ini? Mungkin. Minggu pagi tadi saya dan tanah
ini berbagi kesunyian. Kami berlalu-lalang dalam kesunyian kami berdua.
Sunyi yang perlahan pecah oleh ingatan-ingatan masa
lalu. Ingatan akan gelak tawa bernada jujur yang tumpah dari mulut
gerombolan bocah yang berlari-larian di
atas tanah ini mengikuti imajinasi-imajinasi liar mereka. Semua orang dewasa
memang pernah menjadi bocah, namun seberapa banyak yang ingat? Atau lebihnya,
seberapa banyak yang paham?
Ingatan kembali melambung jauh pada sebuah kisah
klasik.
Alkisah seorang pilot terdampar di Gurun Sahara.
Pesawatnya terjatuh. Singkat cerita, pada suatu fajar pilot itu terbangun,
kemudian ia mendapati sesosok pangeran kecil yang mengaku berasal dari planet
lain. Tak lama pangeran kecil itu meminta pada sang pilot untuk menggambarkan
sebuah domba. Pilot itu kemudian berkata bahwa ia tidak bisa menggambar domba. Ingatan
pilot itu melesap kebelakang.
Di mana dahulu ada seorang bocah menggambar seekor
ular boa yang menelan seekor gajah secara utuh. Dalam gambarnya, yang terlihat
hanya perut si ular yang menggelembung. Sesosok gajah itu sudah tak tampak lagi
karena memang sudah di telan utuh oleh
si ular boa tersebut.
Kemudian si bocah
itu pun menujukan gambarnya pada orang dewasa. “Apa kau tak takut
melihat gambar ini?” tanya si bocah. Tahu apa tanggapan dari orang dewasa
tersebut? “Apa yang harus di takutkan pada gambar sebuah topi? Lebih baik kau
berhenti menggambar dan mulailah belajar hal-hal lain. Seperti geometri, aritmatika,
geografi dan lain-lain.” jawab si orang dewasa itu.
Bocah itu pun akhirnya berhenti menggambar dan
tumbuh besar menjadi seorang pilot.
Kini ia mencoba menggambarkan kembali gambar ular
boa yang tengah menelan seekor gajah secara utuh tersebut. “Dapatkah kau melihatnya?”
tanya si pilot. “Dapat,” jawab pangeran kecil tersebut. Sontak pilot itu pun
terkejut. Lalu pilot itu mencoba menggambar sesuai permintaan pangeran kecil
tersebut, karena beberapa gambar awalnya ditolak oleh pangeran kecil tersebut.
Pangeran kecil itu ingin gambar seekor domba.
Akhirnya pilot itu menggambar sebuah kotak sembari
berkata pada pangeran kecil tersebut; “Di dalam kotak ini ada seekor domba.”
Pangeran kecil tersebut pun kembali dapat melihatnya dan dengan riang hati menerima
gambar tersebut.
Sebuah kisah sederhana namun mengandung makna yang
dalam karya Antoine de Saint ExupĂ©ry dalam novel klasiknya yang berjudul ‘Le Petit Prince’ (Pangeran Kecil).
Rupanya orang dewasa memang tak – mungkin akan
pernah – paham akan sebuah imajinasi yang sekiranya tak kasat mata – atau bahkan
tak logis. Adalah benar memang seperti yang pernah di katakan oleh Rabindranath
Tagore dalam sajaknya: “Nelayan menyelam
mencari mutiara, saudagar berlayar mengarungkan perahu, sementara anak-anak
menghimpun batu dan menebarkannya kembali…”
Apakah imanjinasi sudah mengering dari mereka – para
orang dewasa?
Ihwal nasib tanah ini, sekarang saya – yang bisa
dikatakan sudah dewasa – mencoba kembali berimajinasi di atas tanah ini sembari
memandangi tanah ini. Nasib memang diserahkan kepada manusia untuk digarap
sendiri. Sialnya, nasib tanah ini pun ditentukan oleh manusia. Masing-masing
selalu merasa bertanggungjawab atas nasibnya. Kemudian sebuah paradoks baru
muncul: apakah nasib merasa bertanggungjawab atas masing-masing itu sendiri?
Bagaimana jika ia tidak?
Akhirnya semua harus berdamai dengan nasibnya
masing-masing. Tunduk pada kesunyiannya masing-masing. Ingatan akan tanah
bermain ini kembali hidup. Ia tak jadi mati. Kini yang hampir mati adalah
kesunyian dari tanah ini.
Bung Chairil kembali hadir, giliran tanah ini yang
mendapat sapaan: “Hei, tanah! Bukan
maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kebisingannya masing-masing. Mampus
kau dikoyak-koyak bising!”
Serpong, 2 Agustus 2015
=======


Tidak ada komentar:
Posting Komentar