Kamis, 27 Agustus 2015

Di Sebuah Kota Bernama Oscar Wilde dan Morrissey



 Sumber: Foto Pribadi

Tepat di pusat kota, didirikan patung Pangeran yang Selalu Bahagia. Seluruh tubuhnya dilapisi dengan lembaran-lembaran emas, matanya berupa 2 buah batu safir yang berkilauan, dan di ujung pedangnya terdapat batu ruby besar berwarna merah.

Ia memang sangat dikagumi. “Dia elok seperti kincir angin,” kata salah seorang dewan penasihat kota yang ingin dipuji orang karena ia memiliki selera seni yang tinggi. “Tapi kurang bermanfaat,” tambahnya lagi. Ia takut orang-orang menganggap dirinya tidak praktis, padahal ia memang begitu.

“Tak bisakah kau seperti Pangeran yang Selalu Bahagia itu?” kata seorang ibu kepada anaknya yang menangis meminta sesuatu.”

Tunggu sebentar….

Masa kecilku adalah di jalan, di jalan, di jalan, dan di jalan. Jalan-jalan yang menggambarkanmu dan jalan-jalan yang membatasimu, jalan tanpa rambu lalu-lintas, jalan bebas hambatan, atau jalan raya. Di suatu tempat, ketika hujan turun sangat deras, menjadikan kita seperti orang-orang yang hidup terkurung dalam ruang kekesalan dan itu tergambar dalam wajah kita.


Bisa membedakan? Tiga paragraf pertama adalah karya Oscar Wilde dalam kalimat pembuka untuk cerpennya yang berjudul “Pangeran yang Selalu Bahagia”, sedangkan paragraf terakhir adalah kalimat pembuka dalam Morrissey Autobiography  (Kalimat pembuka Morrissey tadi saya terjemahkan sendiri, mohon maaf jika berantakan).

“Most of my inspiration comes from outside music - especially literature and particularly Oscar Wilde”.  Oscar Wilde punya pengaruh yang sangat besar dalam perjalanan hidup seorang Morrissey. Banyak juga yang mengaitkan bahwa pengaruh Oscar Wilde untuk seorang Morrissey tak sekedar urusan literasi saja, tapi juga mempengaruhi orientasi seksualnya. Terlepas dari orientasi seksual mereka berdua, saya tak ingin membahasnya di sini.

Sebenarnya, sastra sudah mempengaruhi Morrissey jauh sebelum ia terjun ke dunia musik. Morrissey mempunyai seorang ibu yang juga adalah seorang pustakawati. Morrissey sudah “dicekoki” dengan tulisan-tulisan Oscar Wilde saat masih berusia 8 tahun.  Sampai akhirnya ia semakin terobsesi dengan tulisan-tulisan Oscar Wilde. “Every single line affected me in some way.”

Morrissey sangat menyukai kesederhanaan dari tulisan-tulisan Oscar Wilde.

Pun saat ia memasuki jenjang sekolah. Ujarnya, sastra jugalah yang membantu ia “melarikan diri” dari malangnya pendidikan. Morrissey melahap sekaligus mempelajari puisi-puisi dari Edward Lear, Hilaire Bellow, Dorothy Parker, Steve Smith, WH Auden, John Betjeman dan khususnya Oscar Wilde. “Oscar Wilde exploded with original wisdom, advocating freedom for heart and soul, and for all − regardless of how the soul swirled.” (lih. Morrissey Autobiography: 98)

Dalam autobiografinya, Morrissey mengutip puisi-puisi dari penyair-penyair yang sudah disebutkan di atas. Dan ini adalah puisi Oscar Wilde yang dikutip di dalam autobiografinya:
Lily-like, white as snow
She hardly knew
She was a woman, so
Sweetly she grew.
Coffins-board, heavy stone
Lie on her breast;
I vex my heart alone,
She is at rest,
Peace, peace; she cannot hear
Lyre or sonnet;
All my life’s buried here
Heap earth upon it

Dan ketika Morrissey sudah terjun ke dunia musik dengan mengawali karir bersama The Smiths, pengaruh-pengaruh sastra yang Morrissey baca selama ini sangat kental dalam lagu-lagu The Smiths. Dan khususnya pengaruh dari karya-karya Oscar Wilde.

Seperti dalam kutipan lirik di lagu The Smiths yang berjudul ‘Miserable Lie’ (“...flower-like life…”) yang diangkat dari karya Oscar Wilde dengan judul ‘De Profundis’ ("...by his sweetness and goodness to her through the brief years of his flower-like life…").

Kemudian lirik “is that clever” dan “everybody's clever nowadays”,  masih dari lagu The Smiths yang kali ini berjudul ‘Rubber Ring’ disadur dari rekaman audio Oscar Wilde: The Importance Of Being Earnest’.

Nama Oscar Wilde pun tak jarang disebut dalam lagu-lagu ciptaan Morrissey: “…Keats and Yates are on your side, while the love of Wilde is on mine…” (The Smiths – Cemetry Gates).

Kecintaan Morrissey pada bunga pun mungkin bermula dari Oscar Wilde. Morrissey mengaku sangat menyukai cerpen Oscar Wilde yang berjudul 'The Nightingale And The Rose' (Bunga Mawar dan Burung Bul-Bul). “There was a piece called 'The Nightingale And The Rose' that appealed to me. This sense of truly high drama zipped through everything he wrote. He had a life that was really tragic and it's curious that he was so witty. Here we have a creature persistently creased in pain whose life was a total travesty…


Dalam cerpen itu sendiri mengisahkan pengorbanan seekor burung kepada seorang pemuda yang tengah dimabuk cinta. Pemuda itu ingin mengajak wanita idamannya berdansa, namun si wanita hanya ingin berdansa dengan lelaki yang memiliki bunga mawar berwarna merah. Mendengar keluhan pemuda tersebut, si burung pun berusaha membantu mencari bunga mawar merah tersebut. Ia sangat kesulitan mencarinya, yang banyak ia jumpai adalah bunga mawar yang berwarna lain. Sampai suatu kesempatan ia berhasil menemukan tempat di mana mawar berwarna merah dapat tumbuh. Dengan syarat warna merah itu sendiri diambil dari darah yang mengalir di jantung si burung tersebut. Kemudian kisah itu berakhir pelik. Sangat pelik.

…then, I used flowers because Oscar Wilde always used flowers.”




Dan baru-baru ini, lewat websitenya Morrissey mengumumkan akan segera menerbitkan sebuah novel. Can’t wait...!!!

Akhirulkalam, sedikit menyadur kalimat pembuka Morrissey saat konser di  Greek Theater, Berkeley, CA tahun 2002: All I ask in life is that God blesses you, that Oscar Wilde and Morrissey blesses you!

It's Oscar Wilde's and Morrissey's town, we just live in it.




=====





Minggu, 02 Agustus 2015

Sepotong Ingatan dan Nasib Tanah Bermain



Minggu pagi tadi, ada perasaan yang entah, tetiba membawa saya kembali menyusuri tempat yang dahulu menjadi semacam “tanah” bermain bersama dengan teman-teman semasa kecil – namun tadi saya menyusuri tanah ini hanya seorang diri. Mungkin ingatan yang meminta untuk sekedar dirawat. Konon, ingatan memang harus selalu dirawat, karena dalam ingatan terdapat kenangan-kenangan. Apabila kenangan-kenangan goyah dalam susunan ingatan, ia sama halnya seperti sebuah tenda yang dipasang secara serampangan. Kegoyahan yang perlahan-lahan bergerak menuju kematian akan ingatan itu sendiri. Kemudian yang tersisa hanya masa kini. Akan terasa sangat membosankan bukan?

Tiba-tiba Bung Chairil hadir dengan kesunyiannya sendiri dan menyapa: “Hei, engkau! Bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyiannya masing-masing!”

Ya. Sunyi, Bung! Sebagaimana dahulu – karena memang hari libur – sebelum tanah ini bising – bahkan termat − karena sekarang telah berubah menjadi kawasan perindustrian yang padat. Masing-masing sibuk berlalu-lalang dengan kepentingannya masing-masing. Namun bukankah masing-masing pun selalu memiliki kesunyiannya masing-masing − walaupun setitik? Adakah setitik itu tersisa dari kesibukan di tanah ini? Mungkin. Minggu pagi tadi saya dan tanah ini berbagi kesunyian. Kami berlalu-lalang dalam kesunyian kami berdua.

Sunyi yang perlahan pecah oleh ingatan-ingatan masa lalu. Ingatan akan gelak tawa bernada jujur yang tumpah dari mulut gerombolan  bocah yang berlari-larian di atas tanah ini mengikuti imajinasi-imajinasi liar mereka. Semua orang dewasa memang pernah menjadi bocah, namun seberapa banyak yang ingat? Atau lebihnya, seberapa banyak yang paham?

Ingatan kembali melambung jauh pada sebuah kisah klasik. 

Alkisah seorang pilot terdampar di Gurun Sahara. Pesawatnya terjatuh. Singkat cerita, pada suatu fajar pilot itu terbangun, kemudian ia mendapati sesosok pangeran kecil yang mengaku berasal dari planet lain. Tak lama pangeran kecil itu meminta pada sang pilot untuk menggambarkan sebuah domba. Pilot itu kemudian berkata bahwa ia tidak bisa menggambar domba. Ingatan pilot itu melesap kebelakang.

Di mana dahulu ada seorang bocah menggambar seekor ular boa yang menelan seekor gajah secara utuh. Dalam gambarnya, yang terlihat hanya perut si ular yang menggelembung. Sesosok gajah itu sudah tak tampak lagi karena  memang sudah di telan utuh oleh si ular boa tersebut.

Kemudian si bocah  itu pun menujukan gambarnya pada orang dewasa. “Apa kau tak takut melihat gambar ini?” tanya si bocah. Tahu apa tanggapan dari orang dewasa tersebut? “Apa yang harus di takutkan pada gambar sebuah topi? Lebih baik kau berhenti menggambar dan mulailah belajar hal-hal lain. Seperti geometri, aritmatika, geografi dan lain-lain.” jawab si orang dewasa itu.


Bocah itu pun akhirnya berhenti menggambar dan tumbuh besar menjadi seorang pilot.

Kini ia mencoba menggambarkan kembali gambar ular boa yang tengah menelan seekor gajah secara utuh tersebut. “Dapatkah kau melihatnya?” tanya si pilot. “Dapat,” jawab pangeran kecil tersebut. Sontak pilot itu pun terkejut. Lalu pilot itu mencoba menggambar sesuai permintaan pangeran kecil tersebut, karena beberapa gambar awalnya ditolak oleh pangeran kecil tersebut. Pangeran kecil itu ingin gambar seekor domba.

Akhirnya pilot itu menggambar sebuah kotak sembari berkata pada pangeran kecil tersebut; “Di dalam kotak ini ada seekor domba.” Pangeran kecil tersebut pun kembali dapat melihatnya dan dengan riang hati menerima gambar tersebut.

Sebuah kisah sederhana namun mengandung makna yang dalam karya Antoine de Saint ExupĂ©ry dalam novel klasiknya yang berjudul ‘Le Petit Prince’ (Pangeran Kecil).

Rupanya orang dewasa memang tak – mungkin akan pernah – paham akan sebuah imajinasi yang sekiranya tak kasat mata – atau bahkan tak logis. Adalah benar memang seperti yang pernah di katakan oleh Rabindranath Tagore dalam sajaknya: “Nelayan menyelam mencari mutiara, saudagar berlayar mengarungkan perahu, sementara anak-anak menghimpun batu dan menebarkannya kembali…”

Apakah imanjinasi sudah mengering dari mereka – para orang dewasa? 

Ihwal nasib tanah ini, sekarang saya – yang bisa dikatakan sudah dewasa – mencoba kembali berimajinasi di atas tanah ini sembari memandangi tanah ini. Nasib memang diserahkan kepada manusia untuk digarap sendiri. Sialnya, nasib tanah ini pun ditentukan oleh manusia. Masing-masing selalu merasa bertanggungjawab atas nasibnya. Kemudian sebuah paradoks baru muncul: apakah nasib merasa bertanggungjawab atas masing-masing itu sendiri? Bagaimana jika ia tidak?

Akhirnya semua harus berdamai dengan nasibnya masing-masing. Tunduk pada kesunyiannya masing-masing. Ingatan akan tanah bermain ini kembali hidup. Ia tak jadi mati. Kini yang hampir mati adalah kesunyian dari tanah ini. 

Bung Chairil kembali hadir, giliran tanah ini yang mendapat sapaan: “Hei, tanah! Bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kebisingannya masing-masing. Mampus kau dikoyak-koyak bising!”





 Serpong, 2 Agustus 2015



=======