Sumber: Foto Pribadi
Tepat
di pusat kota, didirikan patung Pangeran yang Selalu Bahagia. Seluruh tubuhnya
dilapisi dengan lembaran-lembaran emas, matanya berupa 2 buah batu safir yang
berkilauan, dan di ujung pedangnya terdapat batu ruby besar berwarna merah.
Ia
memang sangat dikagumi. “Dia elok seperti kincir angin,” kata salah seorang
dewan penasihat kota yang ingin dipuji orang karena ia memiliki selera seni
yang tinggi. “Tapi kurang bermanfaat,” tambahnya lagi. Ia takut orang-orang
menganggap dirinya tidak praktis, padahal ia memang begitu.
“Tak
bisakah kau seperti Pangeran yang Selalu Bahagia itu?” kata seorang ibu kepada
anaknya yang menangis meminta sesuatu.”
Tunggu
sebentar….
Masa
kecilku adalah di jalan, di jalan, di jalan, dan di jalan. Jalan-jalan yang menggambarkanmu
dan jalan-jalan yang membatasimu, jalan tanpa rambu lalu-lintas, jalan bebas
hambatan, atau jalan raya. Di suatu tempat, ketika hujan turun sangat deras,
menjadikan kita seperti orang-orang yang hidup terkurung dalam ruang kekesalan
dan itu tergambar dalam wajah kita.
Bisa membedakan? Tiga paragraf
pertama adalah karya Oscar Wilde dalam kalimat pembuka untuk cerpennya yang
berjudul “Pangeran yang Selalu Bahagia”,
sedangkan paragraf terakhir adalah kalimat pembuka dalam Morrissey Autobiography (Kalimat
pembuka Morrissey tadi saya terjemahkan sendiri, mohon maaf jika berantakan).
“Most
of my inspiration comes from outside music - especially literature and
particularly Oscar Wilde”. Oscar
Wilde punya pengaruh yang sangat besar dalam perjalanan hidup seorang Morrissey.
Banyak juga yang mengaitkan bahwa pengaruh Oscar Wilde untuk seorang Morrissey
tak sekedar urusan literasi saja, tapi juga mempengaruhi orientasi seksualnya.
Terlepas dari orientasi seksual mereka berdua, saya tak ingin membahasnya
di sini.
Sebenarnya, sastra
sudah mempengaruhi Morrissey jauh sebelum ia terjun ke dunia musik. Morrissey
mempunyai seorang ibu yang juga adalah seorang pustakawati. Morrissey sudah “dicekoki”
dengan tulisan-tulisan Oscar Wilde saat masih berusia 8 tahun. Sampai akhirnya ia semakin terobsesi dengan
tulisan-tulisan Oscar Wilde. “Every
single line affected me in some way.”
Morrissey sangat
menyukai kesederhanaan dari tulisan-tulisan Oscar Wilde.
Pun saat ia memasuki
jenjang sekolah. Ujarnya, sastra jugalah yang membantu ia “melarikan diri” dari
malangnya pendidikan. Morrissey melahap
sekaligus mempelajari puisi-puisi dari Edward Lear, Hilaire Bellow, Dorothy
Parker, Steve Smith, WH Auden, John Betjeman dan khususnya Oscar Wilde. “Oscar Wilde exploded with original wisdom,
advocating freedom for heart and soul, and for all − regardless of how the soul
swirled.” (lih. Morrissey
Autobiography: 98)
Dalam autobiografinya,
Morrissey mengutip puisi-puisi dari penyair-penyair yang sudah disebutkan di atas.
Dan ini adalah puisi Oscar Wilde yang dikutip di dalam autobiografinya:
Lily-like, white as snow
She hardly knew
She was a woman, so
Sweetly she grew.
Coffins-board, heavy stone
Lie on her breast;
I vex my heart alone,
She is at rest,
Peace, peace; she cannot hear
Lyre or sonnet;
All my life’s buried here
Heap earth upon it
Dan ketika Morrissey
sudah terjun ke dunia musik dengan mengawali karir bersama The Smiths, pengaruh-pengaruh
sastra yang Morrissey baca selama ini sangat kental dalam lagu-lagu The Smiths.
Dan khususnya pengaruh dari karya-karya Oscar Wilde.
Seperti dalam kutipan lirik
di lagu The Smiths yang berjudul ‘Miserable
Lie’ (“...flower-like life…”) yang diangkat dari karya Oscar Wilde dengan judul
‘De Profundis’ ("...by his sweetness
and goodness to her through the brief years of his flower-like life…").
Kemudian lirik “is that clever” dan “everybody's clever nowadays”, masih dari lagu The Smiths yang kali ini berjudul
‘Rubber Ring’ disadur dari rekaman audio Oscar Wilde: ‘The
Importance Of Being Earnest’.
Nama Oscar Wilde pun
tak jarang disebut dalam lagu-lagu ciptaan Morrissey: “…Keats and Yates are on your side, while the love of Wilde is on
mine…” (The Smiths – Cemetry Gates).
Kecintaan Morrissey
pada bunga pun mungkin bermula dari Oscar Wilde. Morrissey mengaku sangat
menyukai cerpen Oscar Wilde yang berjudul 'The
Nightingale And The Rose' (Bunga Mawar dan Burung Bul-Bul). “There was a piece
called 'The Nightingale And The Rose' that appealed to me. This sense of truly
high drama zipped through everything he wrote. He had a life that was really
tragic and it's curious that he was so witty. Here we have a creature
persistently creased in pain whose life was a total travesty…
Dalam cerpen itu sendiri
mengisahkan pengorbanan seekor burung kepada seorang pemuda yang tengah dimabuk
cinta. Pemuda itu ingin mengajak wanita idamannya berdansa, namun si wanita
hanya ingin berdansa dengan lelaki yang memiliki bunga mawar berwarna merah.
Mendengar keluhan pemuda tersebut, si burung pun berusaha membantu mencari bunga
mawar merah tersebut. Ia sangat kesulitan mencarinya, yang banyak ia jumpai
adalah bunga mawar yang berwarna lain. Sampai suatu kesempatan ia berhasil
menemukan tempat di mana mawar berwarna merah dapat tumbuh. Dengan syarat warna
merah itu sendiri diambil dari darah yang mengalir di jantung si burung
tersebut. Kemudian kisah itu berakhir pelik. Sangat pelik.
…then,
I used flowers because Oscar Wilde always used flowers.”
Dan baru-baru ini,
lewat websitenya Morrissey mengumumkan akan segera menerbitkan sebuah novel.
Can’t wait...!!!
Akhirulkalam,
sedikit
menyadur kalimat pembuka Morrissey saat konser di Greek Theater, Berkeley, CA tahun
2002: All I ask in life is that God
blesses you, that Oscar Wilde and Morrissey blesses you!
It's Oscar Wilde's and
Morrissey's town, we just live in it.
=====






