Teduhnya pohon ini kini terasa ganjil. Ada kemuraman dalam teduhnya. Cahaya matahari yang tertutup tubuhnya pun terasa kelabu. Tak ada lagi burung-burung gereja yang bercokol di serambi perdu pohon ini. Atau karena aku yang sudah terlampau lama meninggalkan tempat ini? Sampai-sampai aku merasa menjadi orang asing bagi masa laluku sendiri. Aku merasa layaknya orang yang berlalu-lalang saat jalan-jalan, pohon-pohon semuanya berubah menjauhi kenanganku. Aku merasa sangat jauh.
Di bawah pohon ini, kau kembali berbaring di pangkuanku. Kau
memintaku menghidupkan kembali sesuatu yang telah mati. Sesuatu yang telah lama
dinantikan kembali. Kenangan, katamu – adalah cara untuk menghidupkan kembali
masa lalu itu. Masa lalu yang telah mati.
Aku mencoba mengingat kembali, saat malam pertama kali kita berbagi
tatap. Di sebuah pesta waktu itu, kau mengenakan satin berwarna biru muda.
Sangat anggun. Aku merasa seakan kita telah bersama dalam waktu yang lama.
Entah sudah berapa lama kita memandang luasnya langit dan luasnya cakrawala
yang kita pandang selama semusim. Entah sudah berapa Maret kita lalui saat
jalan-jalan ditumbuhi aneka bunga mekar. Entah sudah berapa tahun-tahun yang
kita lewati bersama ketika kita menatap matahari terbit hingga ia kembali
tenggelam. Bibirmu penuh dan basah. Kuhitung, ada ribuan bintang-bintang yang
ikut menari sambil menyanyikan lagu yang merayu. Sementara bulan? Ia bermuram
karena bintang-bintang lebih ingin berada di sisimu. Cinta, aku tak dapat
melepaskan pandanganku darimu. Kau sungguh cantik malam itu.
Di bawah pohon ini, kau ingat? Sebuah sentuhan, sebuah
ciuman. Sebuah ciuman pertama. Ciuman pertama yang terasa teramat mesra, setiap
hembus nafasnya yang tak beratur seakan mendayu waktu, dan segala sesuatu yang
terjadi setelah itu adalah sebuah frase dengan berjuta bersifat. Manis.
Dan di malam hari setelah itu, aku tak bisa tidur. Rasa kantuk
tak bisa masuk karena saat itu pikiranku tengah berusaha membebaskan diri dari
ingatan-ingatan kemarin. Aku mencoba terus memejamkan mata. Entahlah aku sudah
tertidur atau aku masih setengah sadar, tapi aku yakin aku belum masuk dalam
dunia mimpi. Saat itu aku melihat berbagai pola-pola warna yang racau
berterbangan. Tapi aku melihat satu pola warna sangat tenang anggun meliuk.
Pola itu sangat bersinar. Kemudian lama-kelamaan pola itu semakin dan semakin
membesar. Dan ternyata, pola itu kemudian berujung menjadi bola matamu. Sialan,
saat itu tidurku tak lagi nyenyak karenamu.
Kau pun bilang ingin bertemu kembali denganku esok sore
di bawah pohon itu. Jangankan sampai berharap agar sore cepat berlangsung,
setiap detik jarum jam pun rasanya selalu berhenti karena mereka kembali ingat
senyummu. Hari yang amat panjang.
Sungguh mendebarkan, kau tahu, saat aku melihat dari
kejauhan seorang perempuan cantik tengah setia menunggu seseorang di bawah pohon
sambil mencium-cium bunga yang dipetiknya dengan kaki tersilang yang
digoyang-goyangkan. Ia semakin bersinar ketika cahaya-cahaya matahari menggoda dirinya
melewati celah-celah dedaunan pohon itu.
Kau bercerita banyak sekali, seperti sekarang, kau berbaring
di pangkuanku. Tak banyak cerita yang dapat kuingat. Mungkin salah satunya yang
kuingat adalah saat kau bercerita tentang sebuah revolusi. Kau bercerita dengan
sangat bersemangat.
Bom-bom meledak di pojok jalan, di sekolah-sekolah, di luar
gedung bioskop. Di mana-mana aku melihat wajah-wajah yang hancur dari peristiwa
itu. Bayangan seekor burung membuatku teringat; aku berlari menuju istana
presiden bersama orang-orang lain, semuanya berlari. Dan burung-burung merpati
di plaza terbang seketika, seperti selubung yang terangkat. Lalu peluru-peluru,
yang merobek waktu, membuka hari menuju hari lain, membuatku melihat sisi lain
dari segala sesuatu. Saat masih kecil, aku berpikir bahwa hanya cinta yang
mampu mengubah kita sepenuhnya.
Kurang lebih seperti itu ceritamu.
Sepetinya cukup, cinta. Semakin banyak aku bercerita,
semakin banyak pula yang kuingat. Aku tak ingin lagi larut akan kerinduan masa
lalu. Semua yang kuceritakan seakan-akan seperti sebuah angin yang menyapu
bersih debu sepanjang tahun. Saat kembali melihat masa lalu di belakang, kadang
dengan rasa takut, kadang dengan rasa gembira. Semua selalu terbuai dalam
kerinduan masa lalu. Memang tiada lebih indah dari berpikir tentang masa lalu,
hingga akhirnya tersadar, yang ada pada masa lalu hanyalah mimpi-mimpi yang
terlupakan. Tidak ada yang membuat hidup ini menjadi lebih manis dibandingkan
mengetahui saat masa-masa berlalu. Tapi itu menakutkan.
Dia bersandar di sikunya. Wajahnya semakin lama semakin
mendekat. Dia mencoba menciumku lagi, aku membalasnya tetapi kemudian aku tak
bergerak. Aku mencoba menolaknya. Maaf, mungkin ini caraku untuk menjauh
darimu. Esok kau akan sepenuhnya menjadi milik orang lain. Ciuman ini tak
semesra ciuman pertama kita. Yang terasa hanya pelik. Batas-batasnya sudah
jelas; yang pertama kepatuhan, dan yang kedua pengkhianatan. Cinta, ya mungkin
aku terlalu banyak menggunakan kata ini. Jika kau memintaku untuk menjelaskan
diriku sendiri, aku tak bisa. Aku tak bisa menjelaskan apa yang aku sendiri tak
tahu.
Setelah lama terdiam, aku berkata, aku tahu bahwa ia sangat
mencintaimu. Apakah itu tidak mengganggunya saat kau berada denganku disini?
Kita semua salah tentang cinta. Salah bagaimana? Tanyamu. Cinta hidup dalam
yang ditinggalkan, hingga ia mengetahui bahwa segala sesuatunya memiliki akhir.
Dia tetap cantik seperti dahulu, bahkan semakin cantik.
Pandanganku terus mengikuti langkah-langkahnya yang berkelok dalam kegelapan
dan kemudian menghilang. Namun bayangnya tinggal dengan sekantung kenangan. Lalu aku
membekukan dan membunuh kenangan itu saat kenangan itu masih bernafas.
=====
=====
Tidak ada komentar:
Posting Komentar