Senin, 02 Februari 2015

Elegi Dibawah Pohon


Teduhnya pohon ini kini terasa ganjil. Ada kemuraman dalam teduhnya. Cahaya matahari yang tertutup tubuhnya pun terasa kelabu. Tak ada lagi burung-burung gereja yang bercokol di serambi perdu pohon ini. Atau karena aku yang sudah terlampau lama meninggalkan tempat ini? Sampai-sampai aku merasa menjadi orang asing bagi masa laluku sendiri. Aku merasa layaknya orang yang berlalu-lalang saat jalan-jalan, pohon-pohon semuanya berubah menjauhi kenanganku. Aku merasa sangat jauh.

Di bawah pohon ini, kau kembali berbaring di pangkuanku. Kau memintaku menghidupkan kembali sesuatu yang telah mati. Sesuatu yang telah lama dinantikan kembali. Kenangan, katamu – adalah cara untuk menghidupkan kembali masa lalu itu. Masa lalu yang telah mati.

Aku mencoba mengingat kembali, saat malam pertama kali kita berbagi tatap. Di sebuah pesta waktu itu, kau mengenakan satin berwarna biru muda. Sangat anggun. Aku merasa seakan kita telah bersama dalam waktu yang lama. Entah sudah berapa lama kita memandang luasnya langit dan luasnya cakrawala yang kita pandang selama semusim. Entah sudah berapa Maret kita lalui saat jalan-jalan ditumbuhi aneka bunga mekar. Entah sudah berapa tahun-tahun yang kita lewati bersama ketika kita menatap matahari terbit hingga ia kembali tenggelam. Bibirmu penuh dan basah. Kuhitung, ada ribuan bintang-bintang yang ikut menari sambil menyanyikan lagu yang merayu. Sementara bulan? Ia bermuram karena bintang-bintang lebih ingin berada di sisimu. Cinta, aku tak dapat melepaskan pandanganku darimu. Kau sungguh cantik malam itu.

Di bawah pohon ini, kau ingat? Sebuah sentuhan, sebuah ciuman. Sebuah ciuman pertama. Ciuman pertama yang terasa teramat mesra, setiap hembus nafasnya yang tak beratur seakan mendayu waktu, dan segala sesuatu yang terjadi setelah itu adalah sebuah frase dengan berjuta bersifat. Manis.

Dan di malam hari setelah itu, aku tak bisa tidur. Rasa kantuk tak bisa masuk karena saat itu pikiranku tengah berusaha membebaskan diri dari ingatan-ingatan kemarin. Aku mencoba terus memejamkan mata. Entahlah aku sudah tertidur atau aku masih setengah sadar, tapi aku yakin aku belum masuk dalam dunia mimpi. Saat itu aku melihat berbagai pola-pola warna yang racau berterbangan. Tapi aku melihat satu pola warna sangat tenang anggun meliuk. Pola itu sangat bersinar. Kemudian lama-kelamaan pola itu semakin dan semakin membesar. Dan ternyata, pola itu kemudian berujung menjadi bola matamu. Sialan, saat itu tidurku tak lagi nyenyak karenamu.

Kau pun bilang ingin bertemu kembali denganku esok sore di bawah pohon itu. Jangankan sampai berharap agar sore cepat berlangsung, setiap detik jarum jam pun rasanya selalu berhenti karena mereka kembali ingat senyummu. Hari yang amat panjang.

Sungguh mendebarkan, kau tahu, saat aku melihat dari kejauhan seorang perempuan cantik tengah setia menunggu seseorang di bawah pohon sambil mencium-cium bunga yang dipetiknya dengan kaki tersilang yang digoyang-goyangkan. Ia semakin bersinar ketika cahaya-cahaya matahari menggoda dirinya melewati celah-celah dedaunan pohon itu.

Kau bercerita banyak sekali, seperti sekarang, kau berbaring di pangkuanku. Tak banyak cerita yang dapat kuingat. Mungkin salah satunya yang kuingat adalah saat kau bercerita tentang sebuah revolusi. Kau bercerita dengan sangat bersemangat.

Bom-bom meledak di pojok jalan, di sekolah-sekolah, di luar gedung bioskop. Di mana-mana aku melihat wajah-wajah yang hancur dari peristiwa itu. Bayangan seekor burung membuatku teringat; aku berlari menuju istana presiden bersama orang-orang lain, semuanya berlari. Dan burung-burung merpati di plaza terbang seketika, seperti selubung yang terangkat. Lalu peluru-peluru, yang merobek waktu, membuka hari menuju hari lain, membuatku melihat sisi lain dari segala sesuatu. Saat masih kecil, aku berpikir bahwa hanya cinta yang mampu mengubah kita sepenuhnya.

Kurang lebih seperti itu ceritamu.

Sepetinya cukup, cinta. Semakin banyak aku bercerita, semakin banyak pula yang kuingat. Aku tak ingin lagi larut akan kerinduan masa lalu. Semua yang kuceritakan seakan-akan seperti sebuah angin yang menyapu bersih debu sepanjang tahun. Saat kembali melihat masa lalu di belakang, kadang dengan rasa takut, kadang dengan rasa gembira. Semua selalu terbuai dalam kerinduan masa lalu. Memang tiada lebih indah dari berpikir tentang masa lalu, hingga akhirnya tersadar, yang ada pada masa lalu hanyalah mimpi-mimpi yang terlupakan. Tidak ada yang membuat hidup ini menjadi lebih manis dibandingkan mengetahui saat masa-masa berlalu. Tapi itu menakutkan.

Dia bersandar di sikunya. Wajahnya semakin lama semakin mendekat. Dia mencoba menciumku lagi, aku membalasnya tetapi kemudian aku tak bergerak. Aku mencoba menolaknya. Maaf, mungkin ini caraku untuk menjauh darimu. Esok kau akan sepenuhnya menjadi milik orang lain. Ciuman ini tak semesra ciuman pertama kita. Yang terasa hanya pelik. Batas-batasnya sudah jelas; yang pertama kepatuhan, dan yang kedua pengkhianatan. Cinta, ya mungkin aku terlalu banyak menggunakan kata ini. Jika kau memintaku untuk menjelaskan diriku sendiri, aku tak bisa. Aku tak bisa menjelaskan apa yang aku sendiri tak tahu.

Setelah lama terdiam, aku berkata, aku tahu bahwa ia sangat mencintaimu. Apakah itu tidak mengganggunya saat kau berada denganku disini? Kita semua salah tentang cinta. Salah bagaimana? Tanyamu. Cinta hidup dalam yang ditinggalkan, hingga ia mengetahui bahwa segala sesuatunya memiliki akhir.

Dia tetap cantik seperti dahulu, bahkan semakin cantik. Pandanganku terus mengikuti langkah-langkahnya yang berkelok dalam kegelapan dan kemudian menghilang. Namun bayangnya tinggal dengan sekantung kenangan. Lalu aku membekukan dan membunuh kenangan itu saat kenangan itu masih bernafas.


=====

Tidak ada komentar:

Posting Komentar