Ia berjalan murung sehabis pulang dari sekolah. Usianya baru
9 tahun ketika itu. “Kucing kurus itu
berlari kencang dengan membawa ikan asin di mulutnya. Kemudian ia ditikam oleh
si pemilik ikan asin menggunakan pisau dapur. Esok harinya si pemilik ikan asin
itu meninggal terlindas angkot sehabis pulang dari pasar. Aku terkesiap,
ternyata si kucing tetap hidup tanpa bekas tikaman apapun di tubuhnya. Padahal
kemarin, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Kucing itu terkulai dengan
darah yang mengucur. Aku tak menguburnya. Karena kukira itu adalah kucing
jejadian…”
Di kelas Bahasa Indonesia para murid harus bercerita seputar binatang. Di saat yang lain bercerita tak jauh dari kisah Si Kancil, ia bercerita tentang kisah kucing itu. “Silakan kembali ke tempat dudukmu, Ilang.” ucap Bu Elis dengan tatapan nanar sehabis mendengarkan kisah itu.
Di kelas Bahasa Indonesia para murid harus bercerita seputar binatang. Di saat yang lain bercerita tak jauh dari kisah Si Kancil, ia bercerita tentang kisah kucing itu. “Silakan kembali ke tempat dudukmu, Ilang.” ucap Bu Elis dengan tatapan nanar sehabis mendengarkan kisah itu.
Ilang seorang anak pendiam yang selalu dianggap aneh oleh
teman-temannya. Bahkan oleh gurunya. Sehabis pulang sekolah, Bu Elis ingin
berbincang dengan Ilang. Berbincang tentang kisah-kisahnya yang terlampau
“aneh” untuk anak seusianya. Pada pertemuan sebelumnya, Ilang bercerita tentang
kisah seorang gadis buta yang diperkosa pria berseragam. Kemudian gadis itu
dimintai kesaksian di pengadilan. Namun, di pengadilan bagian tubuhnya hampir
semua hilang. Hanya matanya yang tersisa. Hanya matanya yang dapat memberi
kesaksian.
“Aku tidak mendengarnya dari siapapun, Bu. Aku mendapatkan kisah itu dari mimpiku beberapa minggu yang lalu.”
“Apakah mimpi-mimpimu selalu seperti itu? Pernahkah kau bermimpi tentang gugusan-gugusan bintang yang berkerlip-kerlip dan kau berlompat dari satu bintang ke bintang lainnya?”
“Entahlah. Seingatku, ketika aku belum bersekolah. Itu pun ku dengar lewat kisah yang diceritakan Ibuku. Bukan lewat mimpi-mimpiku. Semenjak ibuku meninggal, rasanya aku belum pernah lagi mendengar kisah-kisah seperti itu.”
“Jika ibu boleh tahu, apa mimpimu tadi malam?”
“Aku tak ingat.”
Ilang berdiri di dekat pintu masuk, memandangi tempat yang
sekarang sepi, di mana rel kereta membentang hingga hilang di batas cakrawala.
Ia sudah beranjak dewasa. Usianya kini 19 tahun. Ia tetap menjadi sosok yang
penyendiri. Ilang masih berdiam diri di pintu masuk untuk beberapa saat,
ragu-ragu, lalu berjalan mengelilingi stasiun melihat-lihat keramaian dari
stasiun yang telah mati.
Tiba-tiba Ilang melihat segerombolan anak-anak yang tengah
bermain. Anak-anak itu berlari-lari meliuk sambil merentangkan tangannya mengikuti
kawanan burung putih yang sedang melayang-layang di atas stasiun. Burung-burung
yang sedang membentuk formasi seperti sebuah segitiga itu berbelok, lalu
terbang ke tengah-tengah danau, seolah-olah mereka melintas diatas anak-anak,
seakan bermaksud memberikan salam kedamaian. Anak-anak yang sedang bergembira
itu, melompat-lompat ke udara seakan-akan mereka bermaksud merengkuh
kebahagiaan dalam tangan-tangan kecil mereka.
Akan tetapi, karena sudah waktunya untuk anak-anak itu mandi
sore, satu per satu dari mereka mulai meninggalkan stasiun mati itu. Ilang
kembali sendirian. Ilang kemudian mencoba menyusuri jalan-jalan utama. Sampai
ketika Ilang berkelok di sebuah gang kecil yang melingkari jalan utama dan dia
berjalan menggenggam besi tua panjang yang ia temukan di stasiun. Matanya
diterpa angin timur yang bertiup tiba-tiba, menerbangkan debu-debu dari gang
yang kusam.
Tiba-tiba, Ilang melihat seekor kucing kurus tergeletak di ujung
gang tersebut. Dengan luka tikaman dan sebuah ikan asin di sampingnya. Kucing
itu mati dengan terbalut darah yang kental sekujur tubuhnya. Seketika ia
teringat mimpinya yang pernah ia ceritakan di depan kelas. Ia bingung apa yang
harus dilakukannya?
Matanya kemudian tertumbuk pada sepotong kain putih yang
tersangkut di semak berduri kering yang tak jauh dari letak matinya kucing
itu. Kain putih itu adalah sebuah
kerudung. Apakah kerudung ini milik pembunuh kucing itu atau memang kerudung
ini terbawa oleh angin dan tersangkut di semak berduri ini? Ah mungkin kerudung
ini sebuah isyarat bahwa aku harus mengubur kucing itu dengan membalutinya
dengan kain putih ini, pikir Ilang.
Ilang menerabas semak belukar mencari tanah kosong untuk
kuburan kucing itu. Dengan alat seadanya, yaitu besi tua yang ia temukan di
stasiun mati, Ilang kemudian menggali kuburan untuk kucing itu. Kemudian Ilang
membaluti kucing itu dengan kain putih yang ditemukannya dan memasukannya ke
liang yang sudah Ilang gali.
Ilang harus segera pulang. Ia kemudian memilih jalan
memutar, melewati sebuah rumah sakit, melintasi sebuah jalan dengan rumah-rumah
yang terbengkalai dan tidak lama sebuah suara yang tak asing memanggil Ilang.
Ilang menoleh, ternyata Bu Elis yang menyapa Ilang.
Ilang dipaksa mampir ke rumahnya oleh Bu Elis. Ilang mencoba
menolak, tapi tak enak hati. Bu Elis sudah memasak banyak makanan katanya, akan
sangat senang jika murid yang pernah diajarnya dahulu bisa mencicipinya
masakannya. Ilang pun mengiyakan.
Di atas meja makan terdapat banyak sekali makanan. Salah
satunya ikan asin. Sambil melahap makanan, Bu Elis memulai pembicaraan.
“Sudah jarang , Bu. Tapi aku tadi baru saja mengalami kejadian yang pernah aku ceritakan saat SD itu bu.”
“Tentang ikan asin dan kucing ?”
“Ya bu. Tapi kali ini aku menguburnya. Tak seperti yang kuceritakan saat SD. Apakah sepotong ikan asin harus dibayar dengan satu nyawa kucing, Bu?”
Bu Elis tersenyum. Kemudian Bu Elis seperti memanggil-manggil binatang peliharaannya. Tak lama seekor kucing menghampiri. Bu Elis memotong kepala ikan asin tersebut dan memberikannya kepada kucing peliharaannya.
“Kau lihat Lang, ibu beri ia kepalanya. Aku hidup. Ia hidup. Kami sama-sama makan. Tak akan ada ‘nyawa’ yang melayang jika kita dapat berlaku adil. Seperti itulah dalam hidup.”
=====
*) Kisah ini terinspirasi dari puisi yang ditulis oleh Wiji Thukul pada 14 Oktober 1996 dengan judul "Kucing, Ikan Asin, dan Aku"