Sabtu, 07 Februari 2015

Sepotong Ikan Asin dan Kucing yang Terbunuh



Ia berjalan murung sehabis pulang dari sekolah. Usianya baru 9 tahun ketika itu. “Kucing kurus itu berlari kencang dengan membawa ikan asin di mulutnya. Kemudian ia ditikam oleh si pemilik ikan asin menggunakan pisau dapur. Esok harinya si pemilik ikan asin itu meninggal terlindas angkot sehabis pulang dari pasar. Aku terkesiap, ternyata si kucing tetap hidup tanpa bekas tikaman apapun di tubuhnya. Padahal kemarin, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Kucing itu terkulai dengan darah yang mengucur. Aku tak menguburnya. Karena kukira itu adalah kucing jejadian…”

Di kelas Bahasa Indonesia para murid harus bercerita seputar binatang. Di saat yang lain bercerita tak jauh dari kisah Si Kancil, ia bercerita tentang kisah kucing itu. “Silakan kembali ke tempat dudukmu, Ilang.” ucap Bu Elis dengan tatapan nanar sehabis mendengarkan kisah itu.

Ilang seorang anak pendiam yang selalu dianggap aneh oleh teman-temannya. Bahkan oleh gurunya. Sehabis pulang sekolah, Bu Elis ingin berbincang dengan Ilang. Berbincang tentang kisah-kisahnya yang terlampau “aneh” untuk anak seusianya. Pada pertemuan sebelumnya, Ilang bercerita tentang kisah seorang gadis buta yang diperkosa pria berseragam. Kemudian gadis itu dimintai kesaksian di pengadilan. Namun, di pengadilan bagian tubuhnya hampir semua hilang. Hanya matanya yang tersisa. Hanya matanya yang dapat memberi kesaksian.

“Ilang, darimana kau mendengar kisah yang yang tadi kau ceritakan?”

“Aku tidak mendengarnya dari siapapun, Bu. Aku mendapatkan kisah itu dari mimpiku beberapa minggu yang lalu.”

“Apakah mimpi-mimpimu selalu seperti itu? Pernahkah kau bermimpi tentang gugusan-gugusan bintang yang berkerlip-kerlip dan kau berlompat dari satu bintang ke bintang lainnya?”

“Entahlah. Seingatku, ketika aku belum bersekolah. Itu pun ku dengar lewat kisah yang diceritakan Ibuku. Bukan lewat mimpi-mimpiku. Semenjak ibuku meninggal, rasanya aku belum pernah lagi mendengar kisah-kisah seperti itu.”

“Jika ibu boleh tahu, apa mimpimu tadi malam?”

“Aku tak ingat.”

Ilang berdiri di dekat pintu masuk, memandangi tempat yang sekarang sepi, di mana rel kereta membentang hingga hilang di batas cakrawala. Ia sudah beranjak dewasa. Usianya kini 19 tahun. Ia tetap menjadi sosok yang penyendiri. Ilang masih berdiam diri di pintu masuk untuk beberapa saat, ragu-ragu, lalu berjalan mengelilingi stasiun melihat-lihat keramaian dari stasiun yang telah mati.

Tiba-tiba Ilang melihat segerombolan anak-anak yang tengah bermain. Anak-anak itu berlari-lari meliuk sambil merentangkan tangannya mengikuti kawanan burung putih yang sedang melayang-layang di atas stasiun. Burung-burung yang sedang membentuk formasi seperti sebuah segitiga itu berbelok, lalu terbang ke tengah-tengah danau, seolah-olah mereka melintas diatas anak-anak, seakan bermaksud memberikan salam kedamaian. Anak-anak yang sedang bergembira itu, melompat-lompat ke udara seakan-akan mereka bermaksud merengkuh kebahagiaan dalam tangan-tangan kecil mereka.

Akan tetapi, karena sudah waktunya untuk anak-anak itu mandi sore, satu per satu dari mereka mulai meninggalkan stasiun mati itu. Ilang kembali sendirian. Ilang kemudian mencoba menyusuri jalan-jalan utama. Sampai ketika Ilang berkelok di sebuah gang kecil yang melingkari jalan utama dan dia berjalan menggenggam besi tua panjang yang ia temukan di stasiun. Matanya diterpa angin timur yang bertiup tiba-tiba, menerbangkan debu-debu dari gang yang kusam.

Tiba-tiba, Ilang melihat seekor kucing kurus tergeletak di ujung gang tersebut. Dengan luka tikaman dan sebuah ikan asin di sampingnya. Kucing itu mati dengan terbalut darah yang kental sekujur tubuhnya. Seketika ia teringat mimpinya yang pernah ia ceritakan di depan kelas. Ia bingung apa yang harus dilakukannya?

Matanya kemudian tertumbuk pada sepotong kain putih yang tersangkut di semak berduri kering yang tak jauh dari letak matinya kucing itu.  Kain putih itu adalah sebuah kerudung. Apakah kerudung ini milik pembunuh kucing itu atau memang kerudung ini terbawa oleh angin dan tersangkut di semak berduri ini? Ah mungkin kerudung ini sebuah isyarat bahwa aku harus mengubur kucing itu dengan membalutinya dengan kain putih ini, pikir Ilang.

Ilang menerabas semak belukar mencari tanah kosong untuk kuburan kucing itu. Dengan alat seadanya, yaitu besi tua yang ia temukan di stasiun mati, Ilang kemudian menggali kuburan untuk kucing itu. Kemudian Ilang membaluti kucing itu dengan kain putih yang ditemukannya dan memasukannya ke liang yang sudah Ilang gali.

Ilang harus segera pulang. Ia kemudian memilih jalan memutar, melewati sebuah rumah sakit, melintasi sebuah jalan dengan rumah-rumah yang terbengkalai dan tidak lama sebuah suara yang tak asing memanggil Ilang. Ilang menoleh, ternyata Bu Elis yang menyapa Ilang.

Ilang dipaksa mampir ke rumahnya oleh Bu Elis. Ilang mencoba menolak, tapi tak enak hati. Bu Elis sudah memasak banyak makanan katanya, akan sangat senang jika murid yang pernah diajarnya dahulu bisa mencicipinya masakannya. Ilang pun mengiyakan.

Di atas meja makan terdapat banyak sekali makanan. Salah satunya ikan asin. Sambil melahap makanan, Bu Elis memulai pembicaraan.

“Apakah kau masih sering bermimpi seperti saat SD, Lang?”

“Sudah jarang , Bu. Tapi aku tadi baru saja mengalami kejadian yang pernah aku ceritakan saat SD itu bu.”

“Tentang ikan asin dan kucing ?”

“Ya bu. Tapi kali ini aku menguburnya. Tak seperti yang kuceritakan saat SD. Apakah sepotong ikan asin harus dibayar dengan satu nyawa kucing, Bu?”

Bu Elis tersenyum. Kemudian Bu Elis seperti memanggil-manggil binatang peliharaannya. Tak lama seekor kucing menghampiri. Bu Elis memotong kepala ikan asin tersebut dan memberikannya kepada kucing peliharaannya.

“Kau lihat Lang, ibu beri ia kepalanya. Aku hidup. Ia hidup. Kami sama-sama makan. Tak akan ada ‘nyawa’ yang melayang jika kita dapat berlaku adil. Seperti itulah dalam hidup.”



=====

*) Kisah ini terinspirasi dari puisi yang ditulis oleh Wiji Thukul pada  14 Oktober 1996 dengan judul "Kucing, Ikan Asin, dan Aku"


Senin, 02 Februari 2015

Elegi Dibawah Pohon


Teduhnya pohon ini kini terasa ganjil. Ada kemuraman dalam teduhnya. Cahaya matahari yang tertutup tubuhnya pun terasa kelabu. Tak ada lagi burung-burung gereja yang bercokol di serambi perdu pohon ini. Atau karena aku yang sudah terlampau lama meninggalkan tempat ini? Sampai-sampai aku merasa menjadi orang asing bagi masa laluku sendiri. Aku merasa layaknya orang yang berlalu-lalang saat jalan-jalan, pohon-pohon semuanya berubah menjauhi kenanganku. Aku merasa sangat jauh.

Di bawah pohon ini, kau kembali berbaring di pangkuanku. Kau memintaku menghidupkan kembali sesuatu yang telah mati. Sesuatu yang telah lama dinantikan kembali. Kenangan, katamu – adalah cara untuk menghidupkan kembali masa lalu itu. Masa lalu yang telah mati.

Aku mencoba mengingat kembali, saat malam pertama kali kita berbagi tatap. Di sebuah pesta waktu itu, kau mengenakan satin berwarna biru muda. Sangat anggun. Aku merasa seakan kita telah bersama dalam waktu yang lama. Entah sudah berapa lama kita memandang luasnya langit dan luasnya cakrawala yang kita pandang selama semusim. Entah sudah berapa Maret kita lalui saat jalan-jalan ditumbuhi aneka bunga mekar. Entah sudah berapa tahun-tahun yang kita lewati bersama ketika kita menatap matahari terbit hingga ia kembali tenggelam. Bibirmu penuh dan basah. Kuhitung, ada ribuan bintang-bintang yang ikut menari sambil menyanyikan lagu yang merayu. Sementara bulan? Ia bermuram karena bintang-bintang lebih ingin berada di sisimu. Cinta, aku tak dapat melepaskan pandanganku darimu. Kau sungguh cantik malam itu.

Di bawah pohon ini, kau ingat? Sebuah sentuhan, sebuah ciuman. Sebuah ciuman pertama. Ciuman pertama yang terasa teramat mesra, setiap hembus nafasnya yang tak beratur seakan mendayu waktu, dan segala sesuatu yang terjadi setelah itu adalah sebuah frase dengan berjuta bersifat. Manis.

Dan di malam hari setelah itu, aku tak bisa tidur. Rasa kantuk tak bisa masuk karena saat itu pikiranku tengah berusaha membebaskan diri dari ingatan-ingatan kemarin. Aku mencoba terus memejamkan mata. Entahlah aku sudah tertidur atau aku masih setengah sadar, tapi aku yakin aku belum masuk dalam dunia mimpi. Saat itu aku melihat berbagai pola-pola warna yang racau berterbangan. Tapi aku melihat satu pola warna sangat tenang anggun meliuk. Pola itu sangat bersinar. Kemudian lama-kelamaan pola itu semakin dan semakin membesar. Dan ternyata, pola itu kemudian berujung menjadi bola matamu. Sialan, saat itu tidurku tak lagi nyenyak karenamu.

Kau pun bilang ingin bertemu kembali denganku esok sore di bawah pohon itu. Jangankan sampai berharap agar sore cepat berlangsung, setiap detik jarum jam pun rasanya selalu berhenti karena mereka kembali ingat senyummu. Hari yang amat panjang.

Sungguh mendebarkan, kau tahu, saat aku melihat dari kejauhan seorang perempuan cantik tengah setia menunggu seseorang di bawah pohon sambil mencium-cium bunga yang dipetiknya dengan kaki tersilang yang digoyang-goyangkan. Ia semakin bersinar ketika cahaya-cahaya matahari menggoda dirinya melewati celah-celah dedaunan pohon itu.

Kau bercerita banyak sekali, seperti sekarang, kau berbaring di pangkuanku. Tak banyak cerita yang dapat kuingat. Mungkin salah satunya yang kuingat adalah saat kau bercerita tentang sebuah revolusi. Kau bercerita dengan sangat bersemangat.

Bom-bom meledak di pojok jalan, di sekolah-sekolah, di luar gedung bioskop. Di mana-mana aku melihat wajah-wajah yang hancur dari peristiwa itu. Bayangan seekor burung membuatku teringat; aku berlari menuju istana presiden bersama orang-orang lain, semuanya berlari. Dan burung-burung merpati di plaza terbang seketika, seperti selubung yang terangkat. Lalu peluru-peluru, yang merobek waktu, membuka hari menuju hari lain, membuatku melihat sisi lain dari segala sesuatu. Saat masih kecil, aku berpikir bahwa hanya cinta yang mampu mengubah kita sepenuhnya.

Kurang lebih seperti itu ceritamu.

Sepetinya cukup, cinta. Semakin banyak aku bercerita, semakin banyak pula yang kuingat. Aku tak ingin lagi larut akan kerinduan masa lalu. Semua yang kuceritakan seakan-akan seperti sebuah angin yang menyapu bersih debu sepanjang tahun. Saat kembali melihat masa lalu di belakang, kadang dengan rasa takut, kadang dengan rasa gembira. Semua selalu terbuai dalam kerinduan masa lalu. Memang tiada lebih indah dari berpikir tentang masa lalu, hingga akhirnya tersadar, yang ada pada masa lalu hanyalah mimpi-mimpi yang terlupakan. Tidak ada yang membuat hidup ini menjadi lebih manis dibandingkan mengetahui saat masa-masa berlalu. Tapi itu menakutkan.

Dia bersandar di sikunya. Wajahnya semakin lama semakin mendekat. Dia mencoba menciumku lagi, aku membalasnya tetapi kemudian aku tak bergerak. Aku mencoba menolaknya. Maaf, mungkin ini caraku untuk menjauh darimu. Esok kau akan sepenuhnya menjadi milik orang lain. Ciuman ini tak semesra ciuman pertama kita. Yang terasa hanya pelik. Batas-batasnya sudah jelas; yang pertama kepatuhan, dan yang kedua pengkhianatan. Cinta, ya mungkin aku terlalu banyak menggunakan kata ini. Jika kau memintaku untuk menjelaskan diriku sendiri, aku tak bisa. Aku tak bisa menjelaskan apa yang aku sendiri tak tahu.

Setelah lama terdiam, aku berkata, aku tahu bahwa ia sangat mencintaimu. Apakah itu tidak mengganggunya saat kau berada denganku disini? Kita semua salah tentang cinta. Salah bagaimana? Tanyamu. Cinta hidup dalam yang ditinggalkan, hingga ia mengetahui bahwa segala sesuatunya memiliki akhir.

Dia tetap cantik seperti dahulu, bahkan semakin cantik. Pandanganku terus mengikuti langkah-langkahnya yang berkelok dalam kegelapan dan kemudian menghilang. Namun bayangnya tinggal dengan sekantung kenangan. Lalu aku membekukan dan membunuh kenangan itu saat kenangan itu masih bernafas.


=====