Untuk kamu yang ingin tahu
Dik, apakah kamu tahu?
Aku menyukai sederhanamu
Sekalipun sederhanamu tak semewah
Oksigen untuk manusia
Dik, apakah kamu tahu?
Aku menyukai kemanisanmu
Meski telah kau sembunyikan
Manismu tetap tak terelakan
Dik, apakah kamu tahu?
Aku menyukai asamnya sikapmu
Asam yang menghampar warna
Warna-warna yang mengajak berkelana
Dik, apakah kamu tahu?
Aku menyukai pedasnya prilakumu
Pedas yang dapat mengetar bibir
Syukur pun terpanjat untuk air
Dik, apakah kamu tahu?
Aku menyukai;
Sederhanamu
Manismu
Asammu
Pedasmu
Ya, kamu itu tahu!
Tahu gejrot!
Serpong, Desember 2014
Blog ini mengajakmu bertamasya. Tamasya dalam lamunan laki-laki pemalu. Kau tak perlu ikut melamun, bebaskan saja jiwamu pergi bertamasya!
Selasa, 23 Desember 2014
Minggu, 14 Desember 2014
Adakah Lebih Nyata dari Pelangi Sehabis Hujan?
Ia terperangah
Tak perlulah engkau gemetar.
Memang hujan menggoyah langkah
Kau mampirlah barang sebentar
Apakah tak lagi kau kenali?
Jalan-jalan yang membawamu kemari
Tak perlu pelangi menyapa
Ada yang lebih nyata
Tak perlu berselendang sutra
Sederhana saja sudah sempurna
Mendekatlah!
Aku ingin kau!
Pelangiku sehabis hujan
Serpong, November 2014
Teruntuk: Tukang Cuanki diujung jalan
Dari: Aku yang sedang lapar dan penuh harap
Tak perlulah engkau gemetar.
Memang hujan menggoyah langkah
Kau mampirlah barang sebentar
Apakah tak lagi kau kenali?
Jalan-jalan yang membawamu kemari
Tak perlu pelangi menyapa
Ada yang lebih nyata
Tak perlu berselendang sutra
Sederhana saja sudah sempurna
Mendekatlah!
Aku ingin kau!
Pelangiku sehabis hujan
Serpong, November 2014
Teruntuk: Tukang Cuanki diujung jalan
Dari: Aku yang sedang lapar dan penuh harap
Langganan:
Komentar (Atom)