Minggu, 07 Juni 2015

Dara



HIDUP memang seperti sebuah tamasya bukan? Dan kita tak lebihnya seperti seorang pelancong berbekal satu tiket pulang. Sampai pada waktu, tiket pulang itu menjadi satu-satunya yang tersisa di dalam saku. Satu-satunya tujuan dalam langkah terakhir sebuah tamasya. Sejauh apapun sebuah langkah, toh pada akhirnya semua terhenti pada langkah ketujuh pelayat terakhir yang menjauhi pusara kita.

Kutengok kembali tiket di tangan kiri, di situ tertera kereta berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 22:30 WIB dan aku duduk di kursi nomor 1B. Kucoba telusuri nomor-nomor kursi di dalam gerbong ke-1 Kereta Api Progo tujuan Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Ternyata kursi bernomor 1A-1B terletak paling pojok gerbong sebelah kanan arah datangnya kereta. Seorang perempuan sudah duduk di atas kursi nomor 1A. Dia menoleh kepadaku, senyumnya pun rekah. Dan kau harus tahu, lekuk-lekuk pipi yang dihasilkan oleh senyumannya seolah memberi isyarat; “Ini akan menjadi perjalanan yang mendebarkan, Tuan!”

Seorang perempuan cantik duduk di sebelahku untuk perjalanan yang kurang lebih memakan waktu 8 jam. Tiap ruas-ruas senyumnya mungkin memang dirangkai dalam sebuah isyarat kesempurnaan. Rambutnya tergerai, sedikit berantakan. Di lehernya terjuntai sepotong kalung liontin berbentuk seekor burung. Kucoba tebak, itu berbentuk burung dara. Namun, saat kita berbagi tatap, yang kudapati di dalam matanya adalah rangkuman sebuah kesenduan. “Apa yang terjadi, Nona? Ceritalah kepadaku,” kataku−tak lebih hanya sebuah pertanyaan yang di lontarkan dalam hati.

Dengan perasaan berdebar, aku mencoba memulai percakapan. Tak elok rasanya saat seorang perempuan sudah melempar senyum paling manis dan kubalas hanya dengan senyum pula. Satu atau dua patah kata mungkin dapat mencairkan suasana dan perasaan.

“Sendiri saja, Nona?”

“Apakah aku terlihat seperti seorang Presiden yang dikawal oleh tujuh orang paspampres?” ia berkelakar.

“Ah tidak, Nona! Kau lebih terlihat seperti satu dari tujuh kawanan bidadari yang selendangnya diambil oleh Jaka Tarub.”

Kita tertawa. Kereta sudah berangkat sedari tadi, tepat setelah rintik gerimis jatuh berakhir di jendela kursi bernomor 1A-1B dan jantung yang berdebar semakin riuh.

“Begini saja, akan kuberi tahu namaku. Agar kau tak melulu memanggilku dengan sebutan ‘Nona’. Namaku Dara.”

“Persis seperti kalung liontin berbentuk burung dara yang terjuntai di lehermu. Namaku …,”

“Simpan saja namamu! Akan bahaya jika aku sampai tahu namamu,” tukasnya.

Apa maksud perempuan ini? Dan apa yang terjadi di masa lalunya? Dari caranya bertutur, selalu ku perhatikan secara teliti bibirnya yang kadang menguncup kemudian rekah seranum bunga matahari. Sesekali pandanganku berpindah, menatap dalam kedua matanya. Tapi tetap, di balik senyumnya yang terlampau mempesona itu, ternyata perempuan ini tak cukup pandai menyimpan duka yang terangkum di matanya. Tatapannya adalah tatapan kegelisahan.

Udara semakin mendingin. Waktu menujukan tengah berada di antara jarak penghujung malam dan pagi yang terlampau pagi.  Kereta berjalan cepat, tak dapat ku ingat stasiun-stasiun yang sudah terlewati. Kini kereta menuju stasiun selanjutnya. Aku mengeluarkan iPod.

“Kau ingin mendengarkan bersama?”

Dia terseyum mengiyakan. Aku beri earphone sebelah kiri.

Fur Elise, Beethoven?” tanyanya.

“Ya. Kau suka?”

“Apakah kau sedang merasa melankolis malam ini?”

Aku terseyum, menatap kembali kedua matanya.

“Bagaimana kau bisa menebak seseorang sedang melankolia atau tidak hanya dari lagu yang sedang dia dengar?”

“Apakah kau tahu, lagu ini tercipta saat Beethoven sudah benar-benar tuli? Duka ternyata memang tak pernah bisa pandai bersembunyi. Sekalipun sepi sudah berusaha menutup-nutupi. Yang terjadi malah kutuk kesepian.”

Ya, Nona! Seperti duka yang bersemayam di matamu. Mengapa matamu begitu berduka? Siapa yang telah meninggalkanmu? Apa yang terjadi pada masa lalumu? Pertanyaan-pertanyaan itu bergaung hebat di dalam pikiranku.

Kereta Api Progo kemudian berhenti di stasiun selanjutnya. Aku tak tahu kereta ini sedang berhenti di stasiun apa. Sepuluh menit berlalu, kereta masih tak kunjung jalan.

“Apa kau tahu juga mengapa kereta berhenti cukup lama di stasiun ini?” tanyanya.

“Hmm…mungkin sedang menunggu penumpang lain?”

“Salah. Masinis harus menunggu sekawanan burung melintas. Baru kereta dapat jalan kembali.”

“Mengapa seperti itu?”

“Baiklah akan ku ceritakan. Sebelum kawanan burung itu melintas.”

Dahulu, di stasiun ini pernah terjadi sebuah kecelakaan kereta api yang cukup hebat. Sebuah kereta malam menabrak lokomotif yang sedang langsir di stasiun ini. Akibat kecelakaan itu, beberapa orang tewas. Kemudian dari puing-puing gerbong yang hancur, muncul sekawanan burung dan terbang bebas meliuk-liuk mengelilingi stasiun ini. Burung-burung itu diyakini sebagai arwah dari para korban. Hingga saat ini, setiap kereta yang melewati stasiun ini harus berhenti dahulu. Menunggu sekawanan burung itu melintas.

“Apakah kau ingin melihat sekawanan burung itu?”

Dia mempersilakanku untuk duduk di kursinya yang berdekatan langsung dengan jendela.

“Jangan kau lepaskan pandanganmu!”

Pandanganku masih tertumbuk keluar. Menanti sekawanan burung yang dikisahkan itu melintas sembari memandangi cahaya lampu-lampu stasiun yang berpendaran. Tak lama sekawanan burung benar-benar melintas. Cukup banyak, kutaksir ada sekitar puluhan burung yang terbang melintasi stasiun dengan sangat anggun.

Kemudian, di antara kawanan burung tersebut, kulihat seekor burung dara berkalung liontin tengah tersenyum manis kepadaku.

Kereta kembali jalan menuju Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta.

Tinggallah aku sendiri di kursi nomor 1A-1B.




=====