Siang itu di kediaman Don Corleone yang megah, tengah
dirayakan pernikahan satu-satunya anak gadis Don Corleone. Corrie namanya.
Semua tampak ceria, diiringi lantunan-lantunan musik ala Sisilia. Bahkan Don
Barzini pun larut dalam keceriaan. Sedikit melupakan persaingan bisnis antara
mereka berdua.
Lengkap dengan tuxedo berdasi kupu-kupu ditambah sedikit
ornamen bunga mawar dekat sakunya, Don Corleone sedikit menjauh dari keramaian.
Duduk di meja bundar di bawah pohon rindang yang saat itu dihiasi lampion-lampion
berwarna oren. Cerutu dibakar, dituangkanlah sedikit wine oleh pelayan. Ia
mengerinyitkan dahi, sesaat sebelum Tom Hagen − Sang Consigliere−datang. Terjadi
sedikit percakapan antar mereka berdua.
Don Corleone pun meninggalkan mejanya, lengkap dengan
cerutunya yang masih terbakar. Ada yang harus diurus sepertinya. Ia bersama Tom
Hagen pun masuk ke dalam rumah.
Selang setengah jam, Don Corleone tak kunjung keluar lagi. Aku
memberanikan diri masuk ke dalam. Kuketuklah ruang kerja Don Corleone,
ternyata Tom Hagen yang membuka. Ia memberi tahu, Don Corleone tengah menerima
tamu. Kemudian Tom Hagen bertanya kepadaku, siapa anda? Panggil saja aku D. Aku
ingin bertemu dengan Don Corleone. Sesaat setelah aku mengenalkan diri pada Tom
Hagen, Don Corleone keluar mengantar tamunya menuju pintu.
Kemudian Don Corleone menatapku sekaligus bertanya, ada apa?
Aku ingin berbincang.
Ah, masuklah!
Sedikit terkejut, ternyata Don Corleone ramah. Don Corleone
pun duduk di kursi kerjanya. Berbahan jati dilapis kulit yang tidak terlalu
tinggi sandaran punggungnya. Sembari memangku kucing yang begitu manja dengan
Don Corleone. Sementara aku duduk dihadapannya langsung. Tom Hagen memberikanku
segelas minuman. Lalu aku mencoba mengenalkan diri.
Don Corleone pun berbincang dengan Tom Hagen. Lalu mereka berdua tersenyum masam sembari melihat D yang seorang rakyat kecil keluar ruangan.D : “Pertama saya bukan Bonasera, yang mengawali percakapan denganmu dengan mengatakan ‘I believe in America’. Karena memang saya bukan seorang Amerikan. Panggil saja saya D. Saya tinggal di sebuah negara yang di mana kau menanam, di situ kau menuai. Ah tapi sepertinya itu dulu sekali. Hingga kini saya masih mencari pembuktian akan kalimat itu. Saya tinggal disebuah negara, di mana nasib adalah permainan kekuasaan. Di mana saat sebagian besar rakyat tergerogoti penyakit, para elit berlomba menggerogoti anggaran. Hingga tiba saat ketika semua yang kecil telah habis dicaplok dan yang besar-besar mulai saling incar. Mengukur lawannya untuk pertarungan yang tak terhindarkan. Masalah perut selalu diselesaikan oleh kata-kata. Berulang-ulang, berkali-kali, berterus-terus. Seperti kata salah satu pahlawan yang terlupakan di negara saya, Tan Malaka namanya. Dan mungkin di Indonesia pun tak banyak yang mengenalnya dibanding mereka yang kenal dengan Spiderman atau superhero Hollywood lainnya. Tan Malaka bilang dalam bukunya Madilog, ‘Lapar tak berarti kenyang buat si Miskin. Si lapar yang kurus kering tak akan bisa kita kenyangkan dengan kata kenyang saja walaupun kita ulangi 1001 kali’. Rumput-rumput semakin ditindas oleh beton-beton, mereka bersimfoni tak karuan; ‘kami butuh tanah!’. Nyanyian akar rumput semakin nyaring terdengar, tapi seperti biasa mereka tak mau mendengar. Saya juga hidup disebuah negara di mana saat ada pejabat yang korup mereka bilang; ‘oknum pejabat’. Saat ada ustad yang berbuat salah berkelit dengan alasan; ‘ya namanya juga manusia’. Dan saat ada geng motor yang melakukan tindak kriminal mereka mengatakan; ‘geng motor harus dibubarkan!’ . Mengapa semuanya selalu dibeda-bedakan. Jika berbicara keadilan, mengapa semuanya tidak berdasarkan hal yang sama? Maka dari itu saya datang kemari. Saya telah berpikir, dan kali ini saya setuju dengan Bonasera; ‘FOR JUSTICE, WE MUST GO TO DON CORLEONE!’.”Don Corleone : “D, sebelumnya apakah kau mencintai keluarga mu?”D : “Dengan sepenuh hati, Don Corleone.”Don Corleone : “Adalah persahabatan, yang dapat melebihi bakat dan nilai nya sama dengan keluarga. D, saya memang belum mengenalmu tapi saya mengenal negara mu. Saya pernah berbincang dengan salah satu teman Indonesia saya. Ketika saya tanya, apa tradisi dari negara mu? Ia menjawab, corrupt! Dengan nada sedikit meninggi. Ditambah sedikit penjelasan darimu saya semakin mendapat gambaran apa yang terjadi di negara mu. Dan apakah kamu mencintai negaramu?”D : “Hmmm. Aku mencintai keluargaku, mencintai sahabat-sahabatku, mencintai pantai-pantainya, mencintai gunung-gunungnya, mencintai budaya-budayanya, mencintai sepakbolanya, yang saya berharap itu bukan termasuk kedalam negara. Nyatanya tidak.”Don Corleone : “Dibalik setiap kemakmuran, selalu ada kejahatan. Ada sebuah Italian jokes yang mengatakan; ‘Dunia ini begitu keras. Seorang pria harus memiliki dua orang ayah untuk menjagannya’.”D : “Ya saya setuju. Itulah salah satu penyebab saya kesini.”Don Corleone : “Apa penyebabnya?”D : “Sudah tentu keadlian. Dan memberi ingatan untuk mereka yang kini hidupnya makmur hingga lupa amanah untuk memakmurkan. Mengatasnamakan keadilan melupakan penderitaan. Dan berharap mereka punya kenangan bukan untuk dilupa.”Don Corleone : “Kau sudah tentu pernah melihat percakapanku dengan Bonasera bukan?”Don Corleone : “Good. Suatu hari, dan mungkin tak pernah terjadi aku akan memintamu untuk melakukan sesuatu untukku. Tapi hingga hari itu datang, terimalah keadilan ini sebagai bingkisan dari pernikahan anak gadis ku.”D : “Grazie, Godfather!”Don Corleone : “Prego.”
=====


